Search

RSS

Bolang Ke Surabaya Part 1


Tepat hari ini ada waktu hari pengumpulan terakhir berkas persyaratan CPNS di Surabaya. Gak bisa membayangkan andaikan hari ini yang mengumpulkan ada berapa ribu lagi yang ada di antrian. Ya tepat jam setengah 6 pagi itu kami berempat berangkat bersama setelah berkumpul dan menata strategi dahulu di kampus STAIN Kediri. Musa teah menunggu di kampus waktu kami datang siap untuk berangkat. Sebelum berangkat kami cek-cek ulang semua persyaratan dan kebutuhan yang diperlukan agar jangan sampai ada yang kurang dan tertinggal saat kami berangkat. Eh ternyata Musa tidak memakai sepatu, akhirnya memutuskan untuk meminjam sepatu di salah satu teman kampus yang tinggal di kost dekat kampus. Dan Anam kembali ke pondok untuk mengambil Akta IV yang mungkin diperlukan sebagai bahan pendaftaran walau sebenarnya dalam draft persyaratan tidak dicantumkan. Setelah semua siap dan lengkap semua persyatatan dan kebutuhan kami berangkat menjelajah ke Kota Surabaya yang hanya bermodalkan peta yang dicetak dari Google Maps. Petualangan baru akhirnya dimulai.
Kami berangkat awalnya melewati Jalan Kapten Piere Tendean atau perempatan Bence ke utara sampai dengan RS Babtis kearah timur sampai PG Pesantren Baru dan dilanjutkan arah bundaran monument SLG. Lalu diteruskan kearah timur yakni Pare, terus hingga pare kami ambil arah Ngoro Jombang. Perjalanan dilanjutkan dengan mengambil arah jalur alternative yang aku sendiri juga tak tahu arahnya, karena yang di depan adalah Anas dan Anam. Hingga perjalanan panjang akhirnya sampai jalur utama Sidoarjo-Surabaya, eh mungkin masih belum Sidoarjo tapi sudah jelas arahnya karena menjadi jalur utama seperti yang tergambar dalam peta. Perjalanan berlanjut hingga di sebuah SPBU kami berhenti sebentar untuk mengisi BBM dan rehat sebentar menata strategi yang selanjutnya. Sampai SPBU sekitar jam setengah 8 pagi, rehat disana sekitar setengah jam kami shalat Dhuha dan sekedar sarapan roto yang dibawakan oleh Musa. Kami berangkat berempat sama-sama tanpa sarapan dahulu, jadi perut benar-benar kosong belum terisi nasi sama sekali.
Kami berangkat melanjutkan perjalanan sekitar jam 8 pagi. Cukup lama juga rehat di SPBU dan sedikit memulihkan energi yang dipakai perjalanan sebelumnya. Perjalanan panjang menuju kota Surabaya pun berlajut dengan panjang, kami terus melewati jalan-jalan besar di jalur utama. Cukup macet juga nyampai daerah Sidoarjo yang pedat merayap di jalan raya dijejali oleh mobi dan motor yang ada. Kami berjalan cukup pelan sambil mencari celah untuk dapat melanjutkan perjalanan agar cepat sampai di Surabaya. Sedikit demi sedikit kami terus menyusuri jalan raya tanpa tahu arah utara atau selatan, yang penting adalah mencari petunjuk arah menuju Surabaya di setiap ujung jalan akan melewati tikungan-tikungan baik perempatan atau pertigaan dan juga bundaran.
Setelah melewati jalan panjang yang cukup menegangkan dan penuh drama. Kami sampai juga memasuki kota Surabaya dengan selamat sekitar jam 9 pagi. Kami melanjutkan perjalanan melewati Jalan A. Yani. Nah setelah melewati jalan A. Yani tersebut bodohnya kami adalah tidak bertanya sama sekali atau melihat peta yang kami buat. Kami berjalan dengan penuh percaya dirinya jalan lurus yang terlebati, sungguh kebodohan yang amat sangat kami tidak mau bertanya karena ternyata jalur yang kami ambil tersebut salah, harusnya dari jalan A. Yani kami belok ke arah kanan tepat dibawah jalan lajang, tapi kami malah mengambil jalan lurus sehingga sulit menemukan tempat-tempat yang kami tandai dalam peta, karena kami memang salah jalur. Karena sadar ada yang janggal dan tidak beres kami memutuskan berhenti di pinggir jalan untuk kembali melihat peta. Setelah memperhatikan tempat dan jalan yang ada di peta dan yang kami lewati, kami baru sadar telah salah arah dengan posisi jauh di sebelah barat lokasi yang kami tuju sedangkan lokasi sebenarnya dalam rute adalah melewati sebelah timurnya dan mengarah ke barat. Kami berusaha memecahkan masalah yang ada dengan tidak lelah-lelahnya untuk bertanya kepada siapapun yang dapat kami tanyai. Saat itu sudah jam setengah 10 pagi. Namun karena tersasar dan mencari rute yang benar kami baru bisa sampai lokasi jam 10.15 pagi.
Huft perjalanan panjang yang begitu melelahkan dan penuh tantang dan yang penting dalam modal kami berangkan adalah modal membaca dan bertanya. Seperti yang dipesankan teman kami yang lebih dahulu mngumpulkan berkas, agar kita langsung mengambil nomor antrian, kamipun langsung menuju petugas bagian nomor antrian masuk, saat itu sudah termasuk saat-saat terakhir, karena nomor antrian yang aku tahu sampai akhirnya di tutup di hari itu adalah 6500, sedangkan kami berempat beruntun mendapat nomor Anam 6484, aku nomor 6485, Anas di nomor 6486 dan terakhir Musa 6487, sudah di 20 angka terakhir jatah hari itu. Alhamdulillah kami dan teman-teman mengucap syukur yang tiada lelah-lalahnya karena masih mendapat nomor antrian setelah kami ketahui ada yang datang jam setengah 11 atau lebih sudah tidak mendapat nomor antrian masuk hari itu, jadi harus menunggu hari besoknya untuk antri kembali.
Setelah mendapat nomor antrian kami langsung mencari tempat yang tenang untuk mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan sambil menunggu panggilan yang sepertinya sampai sore kami baru bisa masuk mengumpulkan berkas. Malam harinya sebelum berangkat sebenarnya semua sudah siap-siap dengan surat lamaran dan pernyataan yang kami tulis, namun karena ada beberapa kesalahan-kesalahan yang cukup fatal, sebenarnya kami juga tidak yakin akan kesalahan apa yang mungkin disalahkan, namun aku dan teman-teman berusaha menulis ulang surat lamaran dan pernyataan walau materai 6rb nya. Dasar otak kreatif itu seringkali muncul disaat-saat genting dan kepepet, ada saja cara untuk membri trik agar materai 6rb yang telah tertempel dan ada tanda tangannya itu kami tata dengan rapi agar bisa dipakai lagi tanpa harus beli materai lagi. Semua itu karena untuk penghematan anggaran. Sebelum berangkat aku telah siap membawa lem kertas dan Anam ternyata siap dengan gunting.
Dari kami berempat yang inisiatif untuk menulis ulang awalnya adalah aku karena memang merasa banyak kesalahan di tulisan yang aku buat semalam, aku menulis dengan tanpa terburu-buru aku sambil ngobrol agar tidak terlalu terpaku pada tulisanku, karena kalau terlalu fokus tingkat kesalahan tulisan lebih besar. Dilanjutkan Anas yang juga ikut nulis ulang karena dia juga merasa ada kesalahan dalam tulisannya, dia nulis lebih cepat daripada tulisanku. Aku sempet digodain karo Mus saat nulis, aku bilang “ah yang jangan ganggu dulu napa aku nulis lama banget kie”, he tanpa lainnya sadar apa yang aku ucapkan. Lalu si Mus yang awalnya sudah yakin dengan tulisannya malah ikut-ikutan ragu dan juga menulis ulang lamaran dan pernyataan namun sambil ngobrol-ngobrol. Saat itu kami mengambil tempat di lantai 2 dekat dengan toilet wanita, sebenarnya bukan wanita aja yang disana karena kata orang-orang semua toilet kog cuma wanita, ya terang aja ini juga Gedung Wanita. Si Mus juga sempet ganggu Anas yang nulis ulang juga lamaran dan pernyataan, berempat ada cewek 1 bisa dijadikan hiburan untuk guyon-guyonan. Sambil ngobrol santai gak kerasa sampai sekitar jam setengah 1 siang dan kami selesai menulis, tapi yang terlalu PD dan gak menulis ulang cuma Anam, tapi biarlah toh resiko ditanggung sendiri-sendiri.
Saat telah selesai semua menulis kami memutuskan untuk mencari Mushola atau Masjid guna melaksanakan ibadah Shalat Dhuhur dan kami memilih mushola yang ada di luar lingkungan gedung sambil jalan-jalan mengurangi rasa penat. Jalan kaki sekitar 200m kami menemukan Mushola juga akhirnya. Kami semua rehat dan ngobrol-ngobrol sebelum melaksanakan Shalat Dhuhur. Setelah usai Shalat Dhuhur Aku, Anam dan Mus memutuskan untuk membeli makanan di warung sekitar Mushola karena dari pagi emang perut belum terisikan nasi sedikitpun sedangkan Anas gak mau diajak makan ya udah dia tidur di Mushola sambil jagain barang bawaan kami. Gak jauh dari Mushola sekitar 10an meter kami mampir di warung untuk makan siang, perut terasa kosong banget yang belum makan nasi dari pagi Cuma terisi 2 atau 3 potong roti. Gaya sarapan orang bule ternyata malah tetep bikin laper.
Cukup murah juga sih makan disana, makan dan minum kopi aku Cuma habis 7rb. Selesai makan bersama kami langsung menuju Mushola dengan membawakan es teh buat Anas kasihan belum terisi makanan. Selesai makan kami ngobrol-ngobrol di Mushola dan Mus ketemu cewek yang juga mau daftar CPNS bagian perawat. Katanya datengnya sudah jam setengah sebelas sehingga gak kebagian nomor antrian, mereka bermaksud menginap di Surabaya agar esok harinya bisa mendapat nomor antrian lagi, tapi ternyata buakn itu saja yang menjadi masalah bagi perawat harus menyertakan surat semacam surat praktik dari kampus, padahal mereka baru lulus tahun ini dan surat tersebut belum keluar dari kampus, katanya keluarnya sekitar Januari tahun depan. Hal ini juga yang menjadikan kami berempat jadi tambah untuk bersyukur karena masih mendapat nomor antrian walau sudah paling belakang. Si Anam juga bertemu dengan seorang bapak yang sedesa dengannya, kabar yang didapat dari bapak itu beliau gak kebagian nomor antrian hingga kalo ingin mengumpulkan berkas harus kembali lagi hari esok atau sampai terakhir pemberkasan dan tanpa telat lagi.
To be continued…again.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment