Harus memulai dari mana semua
pengalaman yang aku dan kawan-kawan kemaren serasa semua cerita cepat dan amat
banyak yang ingin tertuliskan. Mungkin yang lebih tepatnya dari dua hari
sebelumnya yang sangat ruwet dan memusingkan karena mengurus syarat-syarat
pendaftaran CPNS Surabaya, hingga uring-uringan dengan kawan-kawan saat akan
berangkat mengumpulkan berkas persyaratan ke Surabaya, hingga akhirnya dipilih
hari rabu kemarin kita berempat jadi berangkat ke Surabaya. Semua persiapan
serba mendadak, sebenarnya tidak sepenuhnya mendadak karena telah direncanakan
sebelumnya, mungkin tepatnya persiapan kurang matang sehingga banyak menemui
halangan dan rintangan untuk bisa sampai ke lokasi tujuan.
Begitu banyak halangan dan rintangan
yang ada saat kemaren berangkat ke surabaya, namun semua itu bukanlah sebuah
halangan jika dilihat dari sudut pandang yang lain. Semua itu menjadi
pengalaman yang tak ternilai harganya. Pengalaman adalah guru terbaik dan termahal
itu kata-kata bijak dari beberapa tokoh yang aku tambahi sedikit, karena
bagaimanapun pengalaman juga tak ternilai harganya saking mahlanya sebuah makna
pengalaman.
Tak pernah terbayangkan bisa
menjelajahi Kota Surabaya dengan naik sepeda motor, rasanya baru kemaren pernah
ke Surabaya namun kondisinya sangat berbeda, karena dulu dan dulu sekali ke
Surabaya cuma diem dalam Mobil tanpa tahu arah dan rute perjalanan yang akan
ditempuh. Ada cerita lucu tentang rute perjalanan kemaren yang sama-sama masih
awam dengan kota Surabaya karena sebelum berangkat kita mempersiapkan rute
perjalanan yang diperoleh dari Google Map yang dicetak secara terpotong-potong
untuk disatukan agar menjadi satu kesatuan peta yang dapat dibaaca. Namun
karena yang membaca peta buka yang buat sendiri menjadi agak Complicated
Problem, semua menjadi tak beraturan dan salah arah. Bukan salah arah
sebenarnya namun terlanjur arahnya karena salah membaca peta.
Surabaya, menjadi sebuah cerita yang
tak akan terlupakan. Jadi pengen nulis puisi.
Surabaya, ceritamu indah untuk
diingat
Surabaya, kisahmu syahdu untuk
tertuliskan
Surabaya, kotamu indah untuk dikenang
Namun sayang, untuk dijalani amat
menyakitkan.
Surabaya, banyak cerita kau tulis.
Surabaya, banyak kisah indah terkenang
Pengalaman yang ternilai tak lekang jaman
Surabaya, aku rindui dan kenang
Perjalanan panjang ku tempuh untukmu
Surabaya
Rintangan terjal ku hadang demimu
Surabaya
Janjimu indah ku perjuangkan hai
Surabaya
Tak kusangka aku sampai padamu
Surabaya, nantikanku kembali
Surabaya, akhirnya aku menaklukanmu.
Ada cerita unik yang terjadi saat
sehari sebelum berangkat ke Surabaya yakni hari Selasa saat Musa datang dari
Bojonegoro, siangnya dia sms untuk nanti sore sekitar jam 5 sore untuk dijemput
di pertigaan Jetis atau daerah Ngronggo bagian barat. Aku tawarin siapa yang
jemput Mala atau Aku sendiri, dia malah menjawab agar yang menjemput nanti Mala
saja. Hingga saat sore tiba waktu TPQ aku kasih tahu kepada Mala kalau Musa
minta dijemput di pertigaan Jetis seperti yang dipesankan. Dan Musa aku kasih
nomor Hp nya Mala saja secara langsung. Jam setengah 5 sore mala ijin katanya
menjemput Musa yang sudah sms minta dijempput, aku bolehin saja sambil berpesan
agar Musa dibawa aja dulu ke TPQ karena anak-anak TPQ udah kangen semua dengan
Musa sebagai guru mengaji yang dulu pernah ikut berjuang bersamaku.
Hingga saat Musa dateng yang dijemput
oleh Mala, pas aku yang akan pergi mau foto buat syarat pendaftaran. Tepat aku
akan berangkat dan udah naik sepeda motor ternyata baju yang aku pakai sama
seperti baju yang dipakai Musa saat itu. Kontan aja anak-anak dan Mala sebagai
provokator nya menjadi bahan guyon-guyonan kalau aku dan Musa ada apa-apa. Hem
apa juga semua kebetulan atau apa aku sendiri juga tak tahu. Memang dari guru
TPQ yang lalu ada 4 orang yang membuat seragam batik dengan patungan beli kain
dan djahitkan sendiri-sendiri. Entah ada angin apa atau sebab apa hari itu aku
foto menggunakan baju batik yang sama dipakai Musa. Langsung aja aku masuk
kamar dan ganti dengan baju yang lain. Malah karena aku ganti baju anak-anak
dan Mala semakin becandain aku dan Musa, tapi berpikir masa bodoh aja saat itu
demi keamanan. Hingga akhirnya aku berangkat dengan baju yang lain, tapi
sengaja baju batik yang sama dengan Musa aku masukkan dalam tas karena nanti
akan aku pakai untuk foto seluruh badan.
Saat Musa dateng aku belum sempet say
hallo atau sekedar tanya kabar karena sudah dikeroyok anak-anak TPQ yang sudah
kangen berat mungkin kepada Musa. Aku dengan santainya berangkat untuk foto seluruh
badan sampai maghrib baru pulang foto dan gak ketemu lagi dengan Musa karena
dia sudah balik ke pondok untuk menginap sementara sebelum besoknya berangkat
ke Surabaya bareng aku dan teman lainnya. Sebenarnya saat aku pergi dan Musa
dateng di candain Mala kalo sudah ditemuin malah ditinggal pergi namun semua
itu sudah ada rencananya sendiri. Saat dicandain ama temen-temen dan anak-anak
TPQ kenapa hatiku dag dig dug, aku sendiri juga gak paham rasa apa itu saat ada
Musa yan g tak tahu apa-apa menjadi sasaran becandaan bersama. Namun setelah
itu aku mulai menyadari hal yang aku rasa mungkin, ya mungkin adalah sebagai
ungkapan rasa sayangku pada dia. Ya hanya dia dan aku yang tahu karena aku
sendiri sangat tertutup dengan perasaan ini padanya. Dia tahu dalam arti lain
bukan berarti dia juga memiliki rasa yang sama kepadaku, kayaknya gak sih, toh
dia seperti biasa sikapnya kepadaku, dan aku juga berusaha biasa dengan
becandain dia dengan memanggilnya “Say”, “Yank”, “Cah Ayu” dan lain sebagainya.
Aku menggunakan panggilan seperti itu
sebenarnya bukan Cuma kepada dia saja tapi juga kepada temen-temen yang lain
sebagai bahan panggilan agar akrab aja, bukan maksud lain. Agar dalam
pertemanan ada hal berbeda dan aku juga bisa di kenang suatu saat nanti. Aku
ingin menyebarkan makna cinta universal bukan cuma personal antar pasangan
kekasih atau apapun itu namanya. Hingga aku mampu menggali makna cinta itu
sendiri tanpa harus menyusahkan pihak lain dan manapun.
Hingga malam pun tiba untuk persiapan
keperangkatan besok harinya ke Surabaya. Mulai maghrib sampai Isyak semua
disibukkan dengan urusan masing-masinh. Aku dan Anas berbagi tugas untuk
persiapan besok pagi, aku tugasi untuk mengeprint gambar Peta yang telah aku
persiapkan buat arah jalan besok pagi ke Suarabaya. Lucu juga sebenarnya ke
Surabaya bermodal peta, sudah seperti petualangan di alam liar saja menggunakan
peta. Dan aku mencetak foto sluruh badan punyaku dan Anas yang aku ganti
background nya menjadi merah. Cukup murah juag ukuran postcard atau 3R cuma seribu
per lembar, jadi Cuma habis 3000 buat tiga foto yang dicetak. Hingga nyampe
kost sudah sekitar jam 8an. Temen-temen udah aku wanti-wanti untuk jangan tidur
terlalu malam, maksimal jam 9 malem udah tidur, karena persiapan besok pagi
agar gak ngantuk dan kekurangan energi.
Niatnya tidur jam 9 malem, eh setelah
cetak foto lanjut dengan nulis surat lamaran dan pernyataan buat CPNS sampe
sekitar jam 9 malem. Dan masih ada lagi tugas dari temen yang minta tolong
untuk dibuatin power point karena mau ujian Skripsi hari Kamisnya, eh ternyata
aku tang msih Jum’at. Hingga ngelembur sampai sekitar setenga 11 malem. Kurang
sedikit lagi tapi mata udah terasa ngantuk banget gak kuat untuk di buka lagi,
aku putuskan untuk tidur aja dahulu jam setengah 11 itu. Hingga pagi jam
setengah 4 sudah terbangun, dan lanjutin aja buat power point yang kurang
sedikit semalem hingga sampai subuh selesai juga.
Persiapan selanjutnya untuk
keberamgkatan ke Surabaya, jam setengah 5 sudah diberondong sms oleh Musa
tentang berangkatnya. Anas sudah siap dengan mandi terlebih dahulu, namun
tingal aku yang belum siap dan belum mandi. Habis jama’ah Subuh aku siap-siap
mandi eh ke WC dahulu terlanjur kebelet. Hingga semua prepare lengkap dan
jadinya berangkat jam setengah 6 pagi, padahal janjian berangkat habis Subuh
tepat yakni jam 5.
To be continued...







0 komentar:
Post a Comment