Istirahat cukup lama juga di sebuah Mushola saat
menunggu panggilan untuk pemberkasan. Di Mushola tersebut aku sampai nebeng
mandi karena yang lain Anas dan Anam bisa tidur, hanya aku sendiri yang tidak
bisa tidur hingga aku memutuskan untuk mandi agar nanti tidak mengantuk saat
perjalanan pulangnya. Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya sampai sudah
jam setengah 3 sore, dan kami memutuskan untuk jama’ah Shalat Dhuhur dahulu
agar nanti saat menunggu panggilan pemberkasan bisa lebih tenang. Usai jama’ah
jam sudah menunjukkan sekitar jam 3 sore hingga kami memutuskan untuk langsung
menuju lokasi antrian pemberkasan karena sudah cukup lama kami meninggalkan
lokasi dan takut nomor urut kami sudah dipanggil dan kami tidak ada ditempat.
Dengan santai kami jalan kaki kami menuju lokasi
sambil melihat suasana sekitar, sebagai orang awam yang belum pernah jelajah
Kota Surabaya kami cukup menikmati perjalanan ini padahal capek juga. Saat
sampai lokasi kami langsung mengecek daftar panggilan nomor urut yang telah
dipanggil, eh ternyata yang dipanggil masih sampai nomor 6300an. Masih lama
juga kami harus menunggu panggilan karena nomor urut yang paling kecil dari
kami berempat adalah 6485. Sekian lama menunggu semua panggilan berlalu begitu
cepat karena panggilan adalah sekitar 20 orang dalam 2 panggilan, masing-masing
panggilan 10 orang. Hingga akhirnya nomor urut kami dipanggil juga untuk masuk
mengumpulkan persyaratan dan ternyata oh ternyata di dalam setelah panggilan
itu kita masih mengantri lagi untuk bisa mengumpulkan berkas dan diteliti
petugas. Kami berempatpun dipanggil pada petugas yang berbeda-beda aku dapat
tempat menghadap selatan dekat loket yang ditempati Anas, sedangkan Anam dan si
Mus mendapat loket yang ada di utara.
Saat menghadap loket antrian untuk mengumpulkan
berkas aku mendapat tempat dengan petugas cuma 1 orang sehingga lama sekali
meneliti berkasnya, sedangkan yang lain ada 2 petugas yang lebih cepat
pelayanannya. Karena aku udah duduk pada barisan paling belakang, maka aku
pindah aja ke loket lainnya agar lebih cepat, tepat di loket samping Anas megantri.
Mungkin juga karena faktor hoki juga aku loket yang aku antriin cukup cepat
dalam pelayanannya maka aku dapat selesai lebih cepat daripada Anas yang
mengantri lebih dulu, karena loket yang diantriin Anas lama dalam pelayanannya.
Dari kami berempat yang duluan selesai pemberkasan dan keluar gedung adalah si
Mus, terus Aku dan selanjutnya Anas. Saat itu jam sudah menunjukan jam 5 sore,
eh malah Anam menjadi peserta yang paling bontot dalam pemberkasan karena ada
tulisan lamaran dan pernyataan yang dia buat ada yang salah sehingga harus
mengulang menulis lagi dari awal. Mungkin ini juga yang menjadi karmanya Anam
karena saat kami bertiga repot-repot menulis ulang surat lamaran dan pernyataan
dia malah lehai-lehai gak ikutan nulis dan terlalu percaya diri, yah akhirnya
dia harus menulis ulang juga lamaran dan pernyataan. Anam bisa keluar selesai
pemberkasan pada jam setengah 6 sore, itupun sudah peserta terakhir dari
panitia yang melayani pemberkasan dalam gedung.
Jam setengah 6 kami semua sudah selesai pemberkasan
dan sebentar lagi sudah memasuku waktu Maghrib dan kami memutuskan untuk
berjama’ah Shalat Maghrib di Mushola yang ada di sekitar gedung. Selesai
jama’ahnsudah jam 6 sore kami memutuskan untuk langsung perjalanan pulang
melewati jalan yang telah kami rancan sebelumnya. Sebenarnya perjalanan pulang
kami sama sekali kurang persiapan karena peta yang aku buat hanya untuk
berangkat, sedangkan untuk perjalanan pulangnya kami tidak ada rute yang
dipersiapkan, segalanya serba mendadak dan kondisional. Istilah yang ada
mungkin adalah modal nekad karena sama-sama baru pertama kali menjelajah
Surabaya menggunakan sepeda motor. Entah jalan apa yang kami lewati kami tidak
tahu dan seolah gak mau tahu dan peduli dengan hal itu, karen fokus kami yang
utama adalah segera dapat keluar dari Kota Surabaya dengan selamat tanpa
tersesat. Hingga sampailah kami menuju arah Sidoarjo setelah melewati bundaran
di ujung Jalan A. Yani, kami langsung menuju arah Sidoarjo dan semakin parahnya
aku yang boncengan dengan Musa terpish dengan Anas dan Anam yang juga
berboncengan.
Perjalanan jadi semakin ribet karena kami yang
terpisah arahnya, sangat sulit sekali rasanya mencari posisi masing-masing. Aku
yang terus berjalan dan Anas yang terus memacu motornya hilang dari
pandanganku. Sempat Musa dan Anam saling komunikasi dan menunjukkan arah posisi
masing-masing, namun karena saking bingungnya kami tidak juga berhenti untuk
mencari posisi masing-masing hingga kami mencari arah pulang dengan cara
sendiri-sendiri.
Cerita yang paling lucu dan menyedihkan mungkin
saat kami melewati jalur dan tersesat yantg pertama adalah saat melewati jalan
tol sekitar Juanda, ternyata kami salah mengambil jalur sehingga harus memutar
ulang agar bisa sampai kepada jalur yang benar, kami pun memutar mengikuti
jalur yang ada sambil mencari arah jalur yang benar agar bisa sampai arah
menuju Sidoarjo. Saat itu aku sudh terpisah dengan Anam dan Anas, sama sekali
tid memikirkan bagaimana nasib mereka dan posisi mereka ada dimana karena Aku
dan Musa yang juga terlalu tersasar yang berulang-ulang. Untungnya aku bisa
berpikir positif dan tidak panik dalam menghadapi masalah yang begitu pelik,
mungkin juga karena posisi aku yang membonceng cewek sehingga harus bisa
menjaga wibawa dan tidak cepat panik dalam menghadapi masalah. Memang dalam
keadaan terdesak kita leih cenderung lebih tegar dan otak kreatif itu lebih
mudah muncul dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Akhirnya ketemu juga arah keluar menuju Sidoarjo
setelah sebelumnya harus memutar ulang di jalur Tol Juanda. Kami melewati jalur
besar saja karena resiko tersasar lebihbesar di jalan kecil atau alternatif
daripada jalur besar. Kami berjalan tanpa tahu arah mana utara mana selatan,
hanya instink yang kami utamakan. Hingga kami mengambil arah dengan hanya mengikuti
rambu-rambu dan tulisan yang ada di setiap pinggi jalan untuk arah aman yang
kami tuju. Ada kejanggalan saat kami mengambil arah Malang, Musa bilang kalau
dia merasa pernah melewati jalur tersebut saat dahulu ke Malang, tapi dia tidak
berusaha untuk menyetop perjalanan yang kami lakukan. Karena takut tersesat
terlalu jauh aku memutuskan untuk berhenti sejenak disebuah SPBU sekalian isi
BBM dan juga melihat rute atau arah kiblat shalat pada Mushola yang ada di SPBU
tersebut, dan ternyata setelah melihata arah yang ada aku baru sadar akan
keraguan perjalanan tadi, kami mengambil arah ke selatan atau arah Malang yang
seharusnya belum saatnya kami mengarah ke selatan tapi masih ke arah barat.
Dalam pikiranku saat itu kami bisa mengambil arah ke selatan apabila sudah
sampai pada Mojokerto atau tepatnya Jombang, dan itu kami telah mengambil arah
ke sealatan tentunya sangat salah dan terlalu jauh kalau kami harus menuju
Kediri.
Seperti yang telah aku katakan saat sebelum
berangkat perjalanan pulang yakni peluang tersesat saat pualng lebih besar
daripada saat kami berangkat menuju Surabaya. Alasanku mengatakan hal demikian
adalah salah satunya kalau perjalanan pulang masuk waktu malam tidak ada sinar
matahari, hal ini tentunya menyulitkan kami menentukan arah mata angin yang
tepat. Kompas utama yang mampu kami andalkan adalah adanya Mushola atau Masjid
sambil melihat arah kiblatnya. Namun sangat sulit sekali ternyata menemukan Mushola
atau Masjid di tepi jalan raya jalur besar. Kami pun meneruskan perjalanan
setelah yakin dari berhenti di SPBU tadi bahwa arah kami salah kami pun
meneruskan perjalanan dan mencari arah memutar balik agar bisa menuju arah yang
benar.
Perjalanan panjang lagi yang aku dan Musa lewati
adalah ketika kami benar-benar keluar dar Suarabaya, aku lagi-lagi salah
mengambil jalur hingga masuk melewati jalan Tol arah Sidoarjo. Otomatis jalur
Tol bukan untuk sepeda motor dan hanya ada satu arah, untuk keluar jalur tidak
mungkin, untuk kembali memutar arah apalagi lebih berbahaya. Maka nekad kami meneruskan
arah sambil berdoa dan pasrah agar jangan sampai ada Polisi di sana. Karena
jalur Tol yang sepi dan hanya ada kendaraan mobil maka kami meneruskan
perjalanan dengan cepat namun dalam dada kami sangat takut dan harap-harap
cemas akan hal-hal yang bisa saja terjadi yang tidak kami inginkan. Hingga
akhirnya kami bisa sampai pada pintu keluar Tol, dalam dada sangat was-was dan
takut namun semua sudah menjadi resiko maka aku hadapi dengan pasrah dan
tanggung jawab. Sebelum melewati pintu keluar Tol Sidoarjo tersebut kami
menepikan sepeda motor sekitar 10m dari pintu Tol dan langsung saja didatangi
oleh petuga jaga pintu Tol, sebelum beliau petugas Tol tersebut sampai ke arah
kami aku yang terlebih dahulu mendatang beliau sambil memasang wajah melas langsung
saja aku minta maaf dan berkata “Ngapunten pak, saya tadi salah jalur. Baru
pertama kali keuar kota”, petugas itu bertanya “Lha tadi dari mana dan mau
kemana?”, aku menjawab “Saya dari Surabaya pak, mau ke arah Sidoarjo Jombang”,
untung dan terimakasih bapak petugas itu sangat berbaik hati terus menjawab,”Ya
sudah langsung cepat-cepat aja sampean keluar dan nanti saya beritahu jalannya,
karena dari sini tidak kelihatan jalannya”, beliau mengarahkan kami agar tidak
melewati tanda kuning entah untuk apa tanda tersebut yang terletah di bawah
pintu loket keluar Tol. Setelah keluar langsung aku diarahkan jalu mana yang
harus diambil untuk pulang, sempat ada beberapa petugas lain yang tanya tentang
kami, namun petugas tersbut menjawab dengan tetap membantu kami. Allah
terimakasih bantuan-Mu pertolongan-Mu pada hamba-Mu ini.
Perjalanan panjang lagi yang harus kami tempuh
untuk pulang setelah bisa keluar dari jalan Tol tersebut. Dari
kejadian-kejadian yang membuat kami tersesat tersebut aku sendiri merasa sudah
hilamg keyakinan akan arah jalan dan tidak pernah malu-malunya untuk bertanya
kepada siapapun yang bisa kami tanya arah kami yang benar agar cepat sampai
Kediri. Entah jalan mana saja yang kami lewati aku sudah tidak kenal dan hafal
lagi, sepertinya sudah sangat berbeda dengan jalan kami berangkat saat paginya.
Tidak bosan-bosan atau malu sedikitpun aku bertanya karena tak tahu arah. Benar
kiranya pepatah malu bertanya sesat di jalan dan aku sendiri yang
membuktikan kebenaran pepatah itu.
To
be continued…again.






