Search

RSS

Bolang Ke Surabaya Part 2


Istirahat cukup lama juga di sebuah Mushola saat menunggu panggilan untuk pemberkasan. Di Mushola tersebut aku sampai nebeng mandi karena yang lain Anas dan Anam bisa tidur, hanya aku sendiri yang tidak bisa tidur hingga aku memutuskan untuk mandi agar nanti tidak mengantuk saat perjalanan pulangnya. Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya sampai sudah jam setengah 3 sore, dan kami memutuskan untuk jama’ah Shalat Dhuhur dahulu agar nanti saat menunggu panggilan pemberkasan bisa lebih tenang. Usai jama’ah jam sudah menunjukkan sekitar jam 3 sore hingga kami memutuskan untuk langsung menuju lokasi antrian pemberkasan karena sudah cukup lama kami meninggalkan lokasi dan takut nomor urut kami sudah dipanggil dan kami tidak ada ditempat.
Dengan santai kami jalan kaki kami menuju lokasi sambil melihat suasana sekitar, sebagai orang awam yang belum pernah jelajah Kota Surabaya kami cukup menikmati perjalanan ini padahal capek juga. Saat sampai lokasi kami langsung mengecek daftar panggilan nomor urut yang telah dipanggil, eh ternyata yang dipanggil masih sampai nomor 6300an. Masih lama juga kami harus menunggu panggilan karena nomor urut yang paling kecil dari kami berempat adalah 6485. Sekian lama menunggu semua panggilan berlalu begitu cepat karena panggilan adalah sekitar 20 orang dalam 2 panggilan, masing-masing panggilan 10 orang. Hingga akhirnya nomor urut kami dipanggil juga untuk masuk mengumpulkan persyaratan dan ternyata oh ternyata di dalam setelah panggilan itu kita masih mengantri lagi untuk bisa mengumpulkan berkas dan diteliti petugas. Kami berempatpun dipanggil pada petugas yang berbeda-beda aku dapat tempat menghadap selatan dekat loket yang ditempati Anas, sedangkan Anam dan si Mus mendapat loket yang ada di utara.
Saat menghadap loket antrian untuk mengumpulkan berkas aku mendapat tempat dengan petugas cuma 1 orang sehingga lama sekali meneliti berkasnya, sedangkan yang lain ada 2 petugas yang lebih cepat pelayanannya. Karena aku udah duduk pada barisan paling belakang, maka aku pindah aja ke loket lainnya agar lebih cepat, tepat di loket samping Anas megantri. Mungkin juga karena faktor hoki juga aku loket yang aku antriin cukup cepat dalam pelayanannya maka aku dapat selesai lebih cepat daripada Anas yang mengantri lebih dulu, karena loket yang diantriin Anas lama dalam pelayanannya. Dari kami berempat yang duluan selesai pemberkasan dan keluar gedung adalah si Mus, terus Aku dan selanjutnya Anas. Saat itu jam sudah menunjukan jam 5 sore, eh malah Anam menjadi peserta yang paling bontot dalam pemberkasan karena ada tulisan lamaran dan pernyataan yang dia buat ada yang salah sehingga harus mengulang menulis lagi dari awal. Mungkin ini juga yang menjadi karmanya Anam karena saat kami bertiga repot-repot menulis ulang surat lamaran dan pernyataan dia malah lehai-lehai gak ikutan nulis dan terlalu percaya diri, yah akhirnya dia harus menulis ulang juga lamaran dan pernyataan. Anam bisa keluar selesai pemberkasan pada jam setengah 6 sore, itupun sudah peserta terakhir dari panitia yang melayani pemberkasan dalam gedung.
Jam setengah 6 kami semua sudah selesai pemberkasan dan sebentar lagi sudah memasuku waktu Maghrib dan kami memutuskan untuk berjama’ah Shalat Maghrib di Mushola yang ada di sekitar gedung. Selesai jama’ahnsudah jam 6 sore kami memutuskan untuk langsung perjalanan pulang melewati jalan yang telah kami rancan sebelumnya. Sebenarnya perjalanan pulang kami sama sekali kurang persiapan karena peta yang aku buat hanya untuk berangkat, sedangkan untuk perjalanan pulangnya kami tidak ada rute yang dipersiapkan, segalanya serba mendadak dan kondisional. Istilah yang ada mungkin adalah modal nekad karena sama-sama baru pertama kali menjelajah Surabaya menggunakan sepeda motor. Entah jalan apa yang kami lewati kami tidak tahu dan seolah gak mau tahu dan peduli dengan hal itu, karen fokus kami yang utama adalah segera dapat keluar dari Kota Surabaya dengan selamat tanpa tersesat. Hingga sampailah kami menuju arah Sidoarjo setelah melewati bundaran di ujung Jalan A. Yani, kami langsung menuju arah Sidoarjo dan semakin parahnya aku yang boncengan dengan Musa terpish dengan Anas dan Anam yang juga berboncengan.
Perjalanan jadi semakin ribet karena kami yang terpisah arahnya, sangat sulit sekali rasanya mencari posisi masing-masing. Aku yang terus berjalan dan Anas yang terus memacu motornya hilang dari pandanganku. Sempat Musa dan Anam saling komunikasi dan menunjukkan arah posisi masing-masing, namun karena saking bingungnya kami tidak juga berhenti untuk mencari posisi masing-masing hingga kami mencari arah pulang dengan cara sendiri-sendiri.
Cerita yang paling lucu dan menyedihkan mungkin saat kami melewati jalur dan tersesat yantg pertama adalah saat melewati jalan tol sekitar Juanda, ternyata kami salah mengambil jalur sehingga harus memutar ulang agar bisa sampai kepada jalur yang benar, kami pun memutar mengikuti jalur yang ada sambil mencari arah jalur yang benar agar bisa sampai arah menuju Sidoarjo. Saat itu aku sudh terpisah dengan Anam dan Anas, sama sekali tid memikirkan bagaimana nasib mereka dan posisi mereka ada dimana karena Aku dan Musa yang juga terlalu tersasar yang berulang-ulang. Untungnya aku bisa berpikir positif dan tidak panik dalam menghadapi masalah yang begitu pelik, mungkin juga karena posisi aku yang membonceng cewek sehingga harus bisa menjaga wibawa dan tidak cepat panik dalam menghadapi masalah. Memang dalam keadaan terdesak kita leih cenderung lebih tegar dan otak kreatif itu lebih mudah muncul dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Akhirnya ketemu juga arah keluar menuju Sidoarjo setelah sebelumnya harus memutar ulang di jalur Tol Juanda. Kami melewati jalur besar saja karena resiko tersasar lebihbesar di jalan kecil atau alternatif daripada jalur besar. Kami berjalan tanpa tahu arah mana utara mana selatan, hanya instink yang kami utamakan. Hingga kami mengambil arah dengan hanya mengikuti rambu-rambu dan tulisan yang ada di setiap pinggi jalan untuk arah aman yang kami tuju. Ada kejanggalan saat kami mengambil arah Malang, Musa bilang kalau dia merasa pernah melewati jalur tersebut saat dahulu ke Malang, tapi dia tidak berusaha untuk menyetop perjalanan yang kami lakukan. Karena takut tersesat terlalu jauh aku memutuskan untuk berhenti sejenak disebuah SPBU sekalian isi BBM dan juga melihat rute atau arah kiblat shalat pada Mushola yang ada di SPBU tersebut, dan ternyata setelah melihata arah yang ada aku baru sadar akan keraguan perjalanan tadi, kami mengambil arah ke selatan atau arah Malang yang seharusnya belum saatnya kami mengarah ke selatan tapi masih ke arah barat. Dalam pikiranku saat itu kami bisa mengambil arah ke selatan apabila sudah sampai pada Mojokerto atau tepatnya Jombang, dan itu kami telah mengambil arah ke sealatan tentunya sangat salah dan terlalu jauh kalau kami harus menuju Kediri.
Seperti yang telah aku katakan saat sebelum berangkat perjalanan pulang yakni peluang tersesat saat pualng lebih besar daripada saat kami berangkat menuju Surabaya. Alasanku mengatakan hal demikian adalah salah satunya kalau perjalanan pulang masuk waktu malam tidak ada sinar matahari, hal ini tentunya menyulitkan kami menentukan arah mata angin yang tepat. Kompas utama yang mampu kami andalkan adalah adanya Mushola atau Masjid sambil melihat arah kiblatnya. Namun sangat sulit sekali ternyata menemukan Mushola atau Masjid di tepi jalan raya jalur besar. Kami pun meneruskan perjalanan setelah yakin dari berhenti di SPBU tadi bahwa arah kami salah kami pun meneruskan perjalanan dan mencari arah memutar balik agar bisa menuju arah yang benar.
Perjalanan panjang lagi yang aku dan Musa lewati adalah ketika kami benar-benar keluar dar Suarabaya, aku lagi-lagi salah mengambil jalur hingga masuk melewati jalan Tol arah Sidoarjo. Otomatis jalur Tol bukan untuk sepeda motor dan hanya ada satu arah, untuk keluar jalur tidak mungkin, untuk kembali memutar arah apalagi lebih berbahaya. Maka nekad kami meneruskan arah sambil berdoa dan pasrah agar jangan sampai ada Polisi di sana. Karena jalur Tol yang sepi dan hanya ada kendaraan mobil maka kami meneruskan perjalanan dengan cepat namun dalam dada kami sangat takut dan harap-harap cemas akan hal-hal yang bisa saja terjadi yang tidak kami inginkan. Hingga akhirnya kami bisa sampai pada pintu keluar Tol, dalam dada sangat was-was dan takut namun semua sudah menjadi resiko maka aku hadapi dengan pasrah dan tanggung jawab. Sebelum melewati pintu keluar Tol Sidoarjo tersebut kami menepikan sepeda motor sekitar 10m dari pintu Tol dan langsung saja didatangi oleh petuga jaga pintu Tol, sebelum beliau petugas Tol tersebut sampai ke arah kami aku yang terlebih dahulu mendatang beliau sambil memasang wajah melas langsung saja aku minta maaf dan berkata “Ngapunten pak, saya tadi salah jalur. Baru pertama kali keuar kota”, petugas itu bertanya “Lha tadi dari mana dan mau kemana?”, aku menjawab “Saya dari Surabaya pak, mau ke arah Sidoarjo Jombang”, untung dan terimakasih bapak petugas itu sangat berbaik hati terus menjawab,”Ya sudah langsung cepat-cepat aja sampean keluar dan nanti saya beritahu jalannya, karena dari sini tidak kelihatan jalannya”, beliau mengarahkan kami agar tidak melewati tanda kuning entah untuk apa tanda tersebut yang terletah di bawah pintu loket keluar Tol. Setelah keluar langsung aku diarahkan jalu mana yang harus diambil untuk pulang, sempat ada beberapa petugas lain yang tanya tentang kami, namun petugas tersbut menjawab dengan tetap membantu kami. Allah terimakasih bantuan-Mu pertolongan-Mu pada hamba-Mu ini.
Perjalanan panjang lagi yang harus kami tempuh untuk pulang setelah bisa keluar dari jalan Tol tersebut. Dari kejadian-kejadian yang membuat kami tersesat tersebut aku sendiri merasa sudah hilamg keyakinan akan arah jalan dan tidak pernah malu-malunya untuk bertanya kepada siapapun yang bisa kami tanya arah kami yang benar agar cepat sampai Kediri. Entah jalan mana saja yang kami lewati aku sudah tidak kenal dan hafal lagi, sepertinya sudah sangat berbeda dengan jalan kami berangkat saat paginya. Tidak bosan-bosan atau malu sedikitpun aku bertanya karena tak tahu arah. Benar kiranya pepatah malu bertanya sesat di jalan dan aku sendiri yang membuktikan kebenaran pepatah itu.
To be continued…again.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment