Tepat
hari ini ada waktu hari pengumpulan terakhir berkas persyaratan CPNS di
Surabaya. Gak bisa membayangkan andaikan hari ini yang mengumpulkan ada berapa
ribu lagi yang ada di antrian. Ya tepat jam setengah 6 pagi itu kami berempat
berangkat bersama setelah berkumpul dan menata strategi dahulu di kampus STAIN
Kediri. Musa teah menunggu di kampus waktu kami datang siap untuk berangkat.
Sebelum berangkat kami cek-cek ulang semua persyaratan dan kebutuhan yang
diperlukan agar jangan sampai ada yang kurang dan tertinggal saat kami
berangkat. Eh ternyata Musa tidak memakai sepatu, akhirnya memutuskan untuk
meminjam sepatu di salah satu teman kampus yang tinggal di kost dekat kampus.
Dan Anam kembali ke pondok untuk mengambil Akta IV yang mungkin diperlukan
sebagai bahan pendaftaran walau sebenarnya dalam draft persyaratan tidak
dicantumkan. Setelah semua siap dan lengkap semua persyatatan dan kebutuhan
kami berangkat menjelajah ke Kota Surabaya yang hanya bermodalkan peta yang
dicetak dari Google Maps. Petualangan baru akhirnya dimulai.
Kami
berangkat awalnya melewati Jalan Kapten Piere Tendean atau perempatan Bence ke
utara sampai dengan RS Babtis kearah timur sampai PG Pesantren Baru dan
dilanjutkan arah bundaran monument SLG. Lalu diteruskan kearah timur yakni
Pare, terus hingga pare kami ambil arah Ngoro Jombang. Perjalanan dilanjutkan
dengan mengambil arah jalur alternative yang aku sendiri juga tak tahu arahnya,
karena yang di depan adalah Anas dan Anam. Hingga perjalanan panjang akhirnya
sampai jalur utama Sidoarjo-Surabaya, eh mungkin masih belum Sidoarjo tapi
sudah jelas arahnya karena menjadi jalur utama seperti yang tergambar dalam
peta. Perjalanan berlanjut hingga di sebuah SPBU kami berhenti sebentar untuk
mengisi BBM dan rehat sebentar menata strategi yang selanjutnya. Sampai SPBU
sekitar jam setengah 8 pagi, rehat disana sekitar setengah jam kami shalat
Dhuha dan sekedar sarapan roto yang dibawakan oleh Musa. Kami berangkat
berempat sama-sama tanpa sarapan dahulu, jadi perut benar-benar kosong belum
terisi nasi sama sekali.
Kami
berangkat melanjutkan perjalanan sekitar jam 8 pagi. Cukup lama juga rehat di
SPBU dan sedikit memulihkan energi yang dipakai perjalanan sebelumnya.
Perjalanan panjang menuju kota Surabaya pun berlajut dengan panjang, kami terus
melewati jalan-jalan besar di jalur utama. Cukup macet juga nyampai daerah
Sidoarjo yang pedat merayap di jalan raya dijejali oleh mobi dan motor yang
ada. Kami berjalan cukup pelan sambil mencari celah untuk dapat melanjutkan
perjalanan agar cepat sampai di Surabaya. Sedikit demi sedikit kami terus
menyusuri jalan raya tanpa tahu arah utara atau selatan, yang penting adalah
mencari petunjuk arah menuju Surabaya di setiap ujung jalan akan melewati
tikungan-tikungan baik perempatan atau pertigaan dan juga bundaran.
Setelah
melewati jalan panjang yang cukup menegangkan dan penuh drama. Kami sampai juga
memasuki kota Surabaya dengan selamat sekitar jam 9 pagi. Kami melanjutkan
perjalanan melewati Jalan A. Yani. Nah setelah melewati jalan A. Yani tersebut
bodohnya kami adalah tidak bertanya sama sekali atau melihat peta yang kami
buat. Kami berjalan dengan penuh percaya dirinya jalan lurus yang terlebati,
sungguh kebodohan yang amat sangat kami tidak mau bertanya karena ternyata
jalur yang kami ambil tersebut salah, harusnya dari jalan A. Yani kami belok ke
arah kanan tepat dibawah jalan lajang, tapi kami malah mengambil jalan lurus
sehingga sulit menemukan tempat-tempat yang kami tandai dalam peta, karena kami
memang salah jalur. Karena sadar ada yang janggal dan tidak beres kami
memutuskan berhenti di pinggir jalan untuk kembali melihat peta. Setelah
memperhatikan tempat dan jalan yang ada di peta dan yang kami lewati, kami baru
sadar telah salah arah dengan posisi jauh di sebelah barat lokasi yang kami
tuju sedangkan lokasi sebenarnya dalam rute adalah melewati sebelah timurnya
dan mengarah ke barat. Kami berusaha memecahkan masalah yang ada dengan tidak
lelah-lelahnya untuk bertanya kepada siapapun yang dapat kami tanyai. Saat itu
sudah jam setengah 10 pagi. Namun karena tersasar dan mencari rute yang benar
kami baru bisa sampai lokasi jam 10.15 pagi.
Huft
perjalanan panjang yang begitu melelahkan dan penuh tantang dan yang penting
dalam modal kami berangkan adalah modal membaca dan bertanya. Seperti yang
dipesankan teman kami yang lebih dahulu mngumpulkan berkas, agar kita langsung
mengambil nomor antrian, kamipun langsung menuju petugas bagian nomor antrian
masuk, saat itu sudah termasuk saat-saat terakhir, karena nomor antrian yang
aku tahu sampai akhirnya di tutup di hari itu adalah 6500, sedangkan kami
berempat beruntun mendapat nomor Anam 6484, aku nomor 6485, Anas di nomor 6486
dan terakhir Musa 6487, sudah di 20 angka terakhir jatah hari itu.
Alhamdulillah kami dan teman-teman mengucap syukur yang tiada lelah-lalahnya
karena masih mendapat nomor antrian setelah kami ketahui ada yang datang jam
setengah 11 atau lebih sudah tidak mendapat nomor antrian masuk hari itu, jadi
harus menunggu hari besoknya untuk antri kembali.
Setelah
mendapat nomor antrian kami langsung mencari tempat yang tenang untuk
mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan sambil menunggu panggilan yang
sepertinya sampai sore kami baru bisa masuk mengumpulkan berkas. Malam harinya
sebelum berangkat sebenarnya semua sudah siap-siap dengan surat lamaran dan
pernyataan yang kami tulis, namun karena ada beberapa kesalahan-kesalahan yang
cukup fatal, sebenarnya kami juga tidak yakin akan kesalahan apa yang mungkin
disalahkan, namun aku dan teman-teman berusaha menulis ulang surat lamaran dan
pernyataan walau materai 6rb nya. Dasar otak kreatif itu seringkali muncul
disaat-saat genting dan kepepet, ada saja cara untuk membri trik agar materai
6rb yang telah tertempel dan ada tanda tangannya itu kami tata dengan rapi agar
bisa dipakai lagi tanpa harus beli materai lagi. Semua itu karena untuk
penghematan anggaran. Sebelum berangkat aku telah siap membawa lem kertas dan
Anam ternyata siap dengan gunting.
Dari
kami berempat yang inisiatif untuk menulis ulang awalnya adalah aku karena
memang merasa banyak kesalahan di tulisan yang aku buat semalam, aku menulis
dengan tanpa terburu-buru aku sambil ngobrol agar tidak terlalu terpaku pada
tulisanku, karena kalau terlalu fokus tingkat kesalahan tulisan lebih besar.
Dilanjutkan Anas yang juga ikut nulis ulang karena dia juga merasa ada
kesalahan dalam tulisannya, dia nulis lebih cepat daripada tulisanku. Aku
sempet digodain karo Mus saat nulis, aku bilang “ah yang jangan ganggu dulu
napa aku nulis lama banget kie”, he tanpa lainnya sadar apa yang aku ucapkan.
Lalu si Mus yang awalnya sudah yakin dengan tulisannya malah ikut-ikutan ragu
dan juga menulis ulang lamaran dan pernyataan namun sambil ngobrol-ngobrol.
Saat itu kami mengambil tempat di lantai 2 dekat dengan toilet wanita,
sebenarnya bukan wanita aja yang disana karena kata orang-orang semua toilet
kog cuma wanita, ya terang aja ini juga Gedung Wanita. Si Mus juga sempet
ganggu Anas yang nulis ulang juga lamaran dan pernyataan, berempat ada cewek 1
bisa dijadikan hiburan untuk guyon-guyonan. Sambil ngobrol santai gak kerasa
sampai sekitar jam setengah 1 siang dan kami selesai menulis, tapi yang terlalu
PD dan gak menulis ulang cuma Anam, tapi biarlah toh resiko ditanggung
sendiri-sendiri.
Saat
telah selesai semua menulis kami memutuskan untuk mencari Mushola atau Masjid
guna melaksanakan ibadah Shalat Dhuhur dan kami memilih mushola yang ada di
luar lingkungan gedung sambil jalan-jalan mengurangi rasa penat. Jalan kaki
sekitar 200m kami menemukan Mushola juga akhirnya. Kami semua rehat dan
ngobrol-ngobrol sebelum melaksanakan Shalat Dhuhur. Setelah usai Shalat Dhuhur
Aku, Anam dan Mus memutuskan untuk membeli makanan di warung sekitar Mushola
karena dari pagi emang perut belum terisikan nasi sedikitpun sedangkan Anas gak
mau diajak makan ya udah dia tidur di Mushola sambil jagain barang bawaan kami.
Gak jauh dari Mushola sekitar 10an meter kami mampir di warung untuk makan
siang, perut terasa kosong banget yang belum makan nasi dari pagi Cuma terisi 2
atau 3 potong roti. Gaya sarapan orang bule ternyata malah tetep bikin laper.
Cukup
murah juga sih makan disana, makan dan minum kopi aku Cuma habis 7rb. Selesai
makan bersama kami langsung menuju Mushola dengan membawakan es teh buat Anas
kasihan belum terisi makanan. Selesai makan kami ngobrol-ngobrol di Mushola dan
Mus ketemu cewek yang juga mau daftar CPNS bagian perawat. Katanya datengnya
sudah jam setengah sebelas sehingga gak kebagian nomor antrian, mereka
bermaksud menginap di Surabaya agar esok harinya bisa mendapat nomor antrian
lagi, tapi ternyata buakn itu saja yang menjadi masalah bagi perawat harus
menyertakan surat semacam surat praktik dari kampus, padahal mereka baru lulus
tahun ini dan surat tersebut belum keluar dari kampus, katanya keluarnya
sekitar Januari tahun depan. Hal ini juga yang menjadikan kami berempat jadi
tambah untuk bersyukur karena masih mendapat nomor antrian walau sudah paling
belakang. Si Anam juga bertemu dengan seorang bapak yang sedesa dengannya,
kabar yang didapat dari bapak itu beliau gak kebagian nomor antrian hingga kalo
ingin mengumpulkan berkas harus kembali lagi hari esok atau sampai terakhir
pemberkasan dan tanpa telat lagi.
To be
continued…again.





