Search

RSS

Bolang Ke Surabaya Part 2


Istirahat cukup lama juga di sebuah Mushola saat menunggu panggilan untuk pemberkasan. Di Mushola tersebut aku sampai nebeng mandi karena yang lain Anas dan Anam bisa tidur, hanya aku sendiri yang tidak bisa tidur hingga aku memutuskan untuk mandi agar nanti tidak mengantuk saat perjalanan pulangnya. Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya sampai sudah jam setengah 3 sore, dan kami memutuskan untuk jama’ah Shalat Dhuhur dahulu agar nanti saat menunggu panggilan pemberkasan bisa lebih tenang. Usai jama’ah jam sudah menunjukkan sekitar jam 3 sore hingga kami memutuskan untuk langsung menuju lokasi antrian pemberkasan karena sudah cukup lama kami meninggalkan lokasi dan takut nomor urut kami sudah dipanggil dan kami tidak ada ditempat.
Dengan santai kami jalan kaki kami menuju lokasi sambil melihat suasana sekitar, sebagai orang awam yang belum pernah jelajah Kota Surabaya kami cukup menikmati perjalanan ini padahal capek juga. Saat sampai lokasi kami langsung mengecek daftar panggilan nomor urut yang telah dipanggil, eh ternyata yang dipanggil masih sampai nomor 6300an. Masih lama juga kami harus menunggu panggilan karena nomor urut yang paling kecil dari kami berempat adalah 6485. Sekian lama menunggu semua panggilan berlalu begitu cepat karena panggilan adalah sekitar 20 orang dalam 2 panggilan, masing-masing panggilan 10 orang. Hingga akhirnya nomor urut kami dipanggil juga untuk masuk mengumpulkan persyaratan dan ternyata oh ternyata di dalam setelah panggilan itu kita masih mengantri lagi untuk bisa mengumpulkan berkas dan diteliti petugas. Kami berempatpun dipanggil pada petugas yang berbeda-beda aku dapat tempat menghadap selatan dekat loket yang ditempati Anas, sedangkan Anam dan si Mus mendapat loket yang ada di utara.
Saat menghadap loket antrian untuk mengumpulkan berkas aku mendapat tempat dengan petugas cuma 1 orang sehingga lama sekali meneliti berkasnya, sedangkan yang lain ada 2 petugas yang lebih cepat pelayanannya. Karena aku udah duduk pada barisan paling belakang, maka aku pindah aja ke loket lainnya agar lebih cepat, tepat di loket samping Anas megantri. Mungkin juga karena faktor hoki juga aku loket yang aku antriin cukup cepat dalam pelayanannya maka aku dapat selesai lebih cepat daripada Anas yang mengantri lebih dulu, karena loket yang diantriin Anas lama dalam pelayanannya. Dari kami berempat yang duluan selesai pemberkasan dan keluar gedung adalah si Mus, terus Aku dan selanjutnya Anas. Saat itu jam sudah menunjukan jam 5 sore, eh malah Anam menjadi peserta yang paling bontot dalam pemberkasan karena ada tulisan lamaran dan pernyataan yang dia buat ada yang salah sehingga harus mengulang menulis lagi dari awal. Mungkin ini juga yang menjadi karmanya Anam karena saat kami bertiga repot-repot menulis ulang surat lamaran dan pernyataan dia malah lehai-lehai gak ikutan nulis dan terlalu percaya diri, yah akhirnya dia harus menulis ulang juga lamaran dan pernyataan. Anam bisa keluar selesai pemberkasan pada jam setengah 6 sore, itupun sudah peserta terakhir dari panitia yang melayani pemberkasan dalam gedung.
Jam setengah 6 kami semua sudah selesai pemberkasan dan sebentar lagi sudah memasuku waktu Maghrib dan kami memutuskan untuk berjama’ah Shalat Maghrib di Mushola yang ada di sekitar gedung. Selesai jama’ahnsudah jam 6 sore kami memutuskan untuk langsung perjalanan pulang melewati jalan yang telah kami rancan sebelumnya. Sebenarnya perjalanan pulang kami sama sekali kurang persiapan karena peta yang aku buat hanya untuk berangkat, sedangkan untuk perjalanan pulangnya kami tidak ada rute yang dipersiapkan, segalanya serba mendadak dan kondisional. Istilah yang ada mungkin adalah modal nekad karena sama-sama baru pertama kali menjelajah Surabaya menggunakan sepeda motor. Entah jalan apa yang kami lewati kami tidak tahu dan seolah gak mau tahu dan peduli dengan hal itu, karen fokus kami yang utama adalah segera dapat keluar dari Kota Surabaya dengan selamat tanpa tersesat. Hingga sampailah kami menuju arah Sidoarjo setelah melewati bundaran di ujung Jalan A. Yani, kami langsung menuju arah Sidoarjo dan semakin parahnya aku yang boncengan dengan Musa terpish dengan Anas dan Anam yang juga berboncengan.
Perjalanan jadi semakin ribet karena kami yang terpisah arahnya, sangat sulit sekali rasanya mencari posisi masing-masing. Aku yang terus berjalan dan Anas yang terus memacu motornya hilang dari pandanganku. Sempat Musa dan Anam saling komunikasi dan menunjukkan arah posisi masing-masing, namun karena saking bingungnya kami tidak juga berhenti untuk mencari posisi masing-masing hingga kami mencari arah pulang dengan cara sendiri-sendiri.
Cerita yang paling lucu dan menyedihkan mungkin saat kami melewati jalur dan tersesat yantg pertama adalah saat melewati jalan tol sekitar Juanda, ternyata kami salah mengambil jalur sehingga harus memutar ulang agar bisa sampai kepada jalur yang benar, kami pun memutar mengikuti jalur yang ada sambil mencari arah jalur yang benar agar bisa sampai arah menuju Sidoarjo. Saat itu aku sudh terpisah dengan Anam dan Anas, sama sekali tid memikirkan bagaimana nasib mereka dan posisi mereka ada dimana karena Aku dan Musa yang juga terlalu tersasar yang berulang-ulang. Untungnya aku bisa berpikir positif dan tidak panik dalam menghadapi masalah yang begitu pelik, mungkin juga karena posisi aku yang membonceng cewek sehingga harus bisa menjaga wibawa dan tidak cepat panik dalam menghadapi masalah. Memang dalam keadaan terdesak kita leih cenderung lebih tegar dan otak kreatif itu lebih mudah muncul dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Akhirnya ketemu juga arah keluar menuju Sidoarjo setelah sebelumnya harus memutar ulang di jalur Tol Juanda. Kami melewati jalur besar saja karena resiko tersasar lebihbesar di jalan kecil atau alternatif daripada jalur besar. Kami berjalan tanpa tahu arah mana utara mana selatan, hanya instink yang kami utamakan. Hingga kami mengambil arah dengan hanya mengikuti rambu-rambu dan tulisan yang ada di setiap pinggi jalan untuk arah aman yang kami tuju. Ada kejanggalan saat kami mengambil arah Malang, Musa bilang kalau dia merasa pernah melewati jalur tersebut saat dahulu ke Malang, tapi dia tidak berusaha untuk menyetop perjalanan yang kami lakukan. Karena takut tersesat terlalu jauh aku memutuskan untuk berhenti sejenak disebuah SPBU sekalian isi BBM dan juga melihat rute atau arah kiblat shalat pada Mushola yang ada di SPBU tersebut, dan ternyata setelah melihata arah yang ada aku baru sadar akan keraguan perjalanan tadi, kami mengambil arah ke selatan atau arah Malang yang seharusnya belum saatnya kami mengarah ke selatan tapi masih ke arah barat. Dalam pikiranku saat itu kami bisa mengambil arah ke selatan apabila sudah sampai pada Mojokerto atau tepatnya Jombang, dan itu kami telah mengambil arah ke sealatan tentunya sangat salah dan terlalu jauh kalau kami harus menuju Kediri.
Seperti yang telah aku katakan saat sebelum berangkat perjalanan pulang yakni peluang tersesat saat pualng lebih besar daripada saat kami berangkat menuju Surabaya. Alasanku mengatakan hal demikian adalah salah satunya kalau perjalanan pulang masuk waktu malam tidak ada sinar matahari, hal ini tentunya menyulitkan kami menentukan arah mata angin yang tepat. Kompas utama yang mampu kami andalkan adalah adanya Mushola atau Masjid sambil melihat arah kiblatnya. Namun sangat sulit sekali ternyata menemukan Mushola atau Masjid di tepi jalan raya jalur besar. Kami pun meneruskan perjalanan setelah yakin dari berhenti di SPBU tadi bahwa arah kami salah kami pun meneruskan perjalanan dan mencari arah memutar balik agar bisa menuju arah yang benar.
Perjalanan panjang lagi yang aku dan Musa lewati adalah ketika kami benar-benar keluar dar Suarabaya, aku lagi-lagi salah mengambil jalur hingga masuk melewati jalan Tol arah Sidoarjo. Otomatis jalur Tol bukan untuk sepeda motor dan hanya ada satu arah, untuk keluar jalur tidak mungkin, untuk kembali memutar arah apalagi lebih berbahaya. Maka nekad kami meneruskan arah sambil berdoa dan pasrah agar jangan sampai ada Polisi di sana. Karena jalur Tol yang sepi dan hanya ada kendaraan mobil maka kami meneruskan perjalanan dengan cepat namun dalam dada kami sangat takut dan harap-harap cemas akan hal-hal yang bisa saja terjadi yang tidak kami inginkan. Hingga akhirnya kami bisa sampai pada pintu keluar Tol, dalam dada sangat was-was dan takut namun semua sudah menjadi resiko maka aku hadapi dengan pasrah dan tanggung jawab. Sebelum melewati pintu keluar Tol Sidoarjo tersebut kami menepikan sepeda motor sekitar 10m dari pintu Tol dan langsung saja didatangi oleh petuga jaga pintu Tol, sebelum beliau petugas Tol tersebut sampai ke arah kami aku yang terlebih dahulu mendatang beliau sambil memasang wajah melas langsung saja aku minta maaf dan berkata “Ngapunten pak, saya tadi salah jalur. Baru pertama kali keuar kota”, petugas itu bertanya “Lha tadi dari mana dan mau kemana?”, aku menjawab “Saya dari Surabaya pak, mau ke arah Sidoarjo Jombang”, untung dan terimakasih bapak petugas itu sangat berbaik hati terus menjawab,”Ya sudah langsung cepat-cepat aja sampean keluar dan nanti saya beritahu jalannya, karena dari sini tidak kelihatan jalannya”, beliau mengarahkan kami agar tidak melewati tanda kuning entah untuk apa tanda tersebut yang terletah di bawah pintu loket keluar Tol. Setelah keluar langsung aku diarahkan jalu mana yang harus diambil untuk pulang, sempat ada beberapa petugas lain yang tanya tentang kami, namun petugas tersbut menjawab dengan tetap membantu kami. Allah terimakasih bantuan-Mu pertolongan-Mu pada hamba-Mu ini.
Perjalanan panjang lagi yang harus kami tempuh untuk pulang setelah bisa keluar dari jalan Tol tersebut. Dari kejadian-kejadian yang membuat kami tersesat tersebut aku sendiri merasa sudah hilamg keyakinan akan arah jalan dan tidak pernah malu-malunya untuk bertanya kepada siapapun yang bisa kami tanya arah kami yang benar agar cepat sampai Kediri. Entah jalan mana saja yang kami lewati aku sudah tidak kenal dan hafal lagi, sepertinya sudah sangat berbeda dengan jalan kami berangkat saat paginya. Tidak bosan-bosan atau malu sedikitpun aku bertanya karena tak tahu arah. Benar kiranya pepatah malu bertanya sesat di jalan dan aku sendiri yang membuktikan kebenaran pepatah itu.
To be continued…again.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bertemu Di Alam Mimpi


Dan terjadi lagi dalam alam mimpi aku bisa bertemu dengan Dia, mimpi ini terasa jujur sekali namun menyakitkan. Tadi sekitar jam 3 sampai jam setengah 4 dini hari kembali aku bermimpi bertemu dan mengobrol dengan Dia (LS), dalam obrolan itu sih santai2 saja sambil aku buka semacam rancangan laporan penelitian yang dia buat, pas aku buka kog ada foto cowok ukuran 4x6 hitam putih beberapa lembar, aku sih diam saja seolah tak tahu apa-apa tapi malah dia sendiri yang menceritakan perihal foto yang ada di dalam buku tersebut dengan berkata,”Napo? Iku arek konco MTs, cahe kuliah BK, aku pacaran karo cahe”, dan aku menjawab dengan santai dan berusaha menegarkan diri,”pacaran atau tidak itu adalah hakmu, aku juga gak berhak melarang”. Setelah itu aku buka-buka lagi kog menemukan semakinbanyak lagi foto cowok itu disana bahkan ada yang ukuran 3R kalo bukan 4R, malah tak guyoni,”Kog akeh men fotone, opo wes gawe siap2 ijab?”. Terus aku cerita bahwa kemarin aku tanya kalau tanggal 26-27 Oktober 2013 nanti itu aku mau ke Surabaya untuk ujian CPNS, kalau diijinkan sambil main ke UNESA dan bertemu, tapi kenyataannya berlawanan dan gak mendapat restu Yang Maha Kuasa. Setelah itu aku terbangun tepat jam 4 kurang 10 menit, baru mikir “Aku kog lemes ya”.
Sesaat setelah bangun aku lihat ada Hp, langsung aku kirim SMS ke Dia “Aku kog ngimpi aneh2 ae sih..”, hingga berlanjut setelah Jama’ah Subuh Dia membelas dan aku cerita apa yang terjadi dengan aku SMS tadi, semuanya tanpa kurang. Setelah mendapat konfirmasi dari Dia, dari keseluruhan mimpi itu aku menyimpulkan hanya 1 hal yang salah yakni cowok tersebut tidak kuliah BK, sdedangkan yang lainnya semuanya benar adanya. Itu hasil kesimpulanku dari aku mendapat balasaln SMS dari Dia (LS).
Aku hanya membalas di akhir SMS, “Santai saja, itu semua tak akan pernah merubah apapun yang ada di sini”. Mungkin Dia tidak tahu atau tak mau tahu, itu juga tak penting, aku hanya ingin menjelaskan kata terakhir “di sini” adalah di hatiku tentang semua yang ada dan kepada Dia.
Satu puisi untuk Dia

Biar apapun terjadi aku tak perduli
Biar apapun berlalu aku tak mau tahu
Kita hanya menjalani tak mungkin memungkiri
Takdir hanya berlaku tak bisa dihindari
Semua ini bagian dari jalan hidup
Yang pasti kita lewati
Kita jalani walau tak pasti
Di hadapan Tuhan kian pasti
Untuk kita lalui jalan cerita ini
Biar apapun terjadi
Biar apapun berlalu
Takan mampu merubah apapun dalam hati
Hanya dengan kehendak Illahi Yang Maha Tahu
Semua pasti akan terjadi
Segalanya pasti akan berlaku
Aku hanya meyakinkan dalam diri
Hari indah itu pasti terjadi

Tampak semua semakin jelas di mata apa yang terjadi antara aku dan Dia. Semua dibenarkan olehnya, akupun selalu belajar menerima kenyataan yang ada walau itu sepahit apapun, hanya berpikir positif suatu saat hari indah itu pasti terjadi. Belajar menerima kenyataan, walaupun sepahit dan seperih apapun itulah yang terjadi, hanya berpikir positif hari indah itu pasti ada dan terjadi. Bukan cinta itu buta, namun cintalah yang membutakan, hingga tidak mampu melihat apapun yang lebih indah selain hanya dia, biar seribu bidadari datang menggoda, tetaplah pilihan hati hanyalah dia.
Berikut beberapa sms balasan dari Dia.
Saat aku ceritakan semua yang ada dalam mimpiku tadi dia membalas dengan singkat.

Xixixi

Sender:
~¤<(LS)>¤~
+6285749822472

Message centre:
+62816124

Sent:
23-Okt-2013
05:11:09
Trus dia Tanya kenapa aku hafal dengan nama lengkap cwok tersebut :

Aneh e, pas lebaran kae. Km malah apal nama lengkapx. Tk batin kae

Sender:
~¤<(LS)>¤~
+6285749822472

Message centre:
+62816124

Sent:
23-Okt-2013
05:47:12
Setelah aku desak dengan pertanyaan yang ada dalam mimpi itu benar atau tidak Dia membalas :

Iyo bener. Wes to

Sender:
~¤<(LS)>¤~
+6285749822472

Message centre:
+62816124

Sent:
23-Okt-2013
05:50:16
Eh akhirnya malah bahas yang lain dengan Tanya mbak q yang pengen minta nomer hapenya :

Mbk2 temenmu kae nu urung tk wei n0q lakug wes dblokir toh fbq

Sender:
~¤<(LS)>¤~
+6285749822472

Message centre:
+62816124

Sent:
23-Okt-2013
05:57:11
Sudah selesai semua percakapan lewat SMS dan gak bales lagi saat aku kirimin SMS Tanya kabar Dia di sana.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bolang Ke Surabaya Part 3


Fokus perjalanan kami berikutnya adalah menuj arah Sidoarjo-Mojokerto, arah yang harus diambil adalah jalur besar karena untuk melewati jalur-jalur alternatif pada malam hari lebih beresiko untuk tersesat bagi kami. Kami berjalanan cengan cepat tapi tidak pernah lelah ataupun malu unuk bertanya apabila aku merasa kurang yakin dengan arah perjalanan tersebut. Sampai berapa kali aku harus bertanya aku sendiri sudah lupa mungkin karena saking banyaknya bertanya. Saat itu kami keluar menuju arah sidoarjo dan ditunjukkan untuk melewati Krian yang merupakan Kecamatan paling barat Sdoarjo dan menjadi awal masuk Mojokerto. Kami bertanya berulang kali hingga akhirnya bisa sampai Keamatan Krian, karena kondisi badan yang capek berat dan perut yang dalam keadaan kosong maka kami memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah warung untuk sekedar membeli minuman dan makanan kecil. Aku membeli satu botol minuman ringan dan mie instan rebus, sebenarnya di warung sebelahnya ada mie ayam tapi aku memilih mie instan saja yang lebih cepat karena keadaan perutku yang sangat lapar. Musa cuma membeli semacam kripik makroni pedas, karena aku tawarin makan dia gak mau cuma makan snack itu aja dan minum minuman ringan yang kupesan tadi, sebotol berdua romantis juga walau tak mampu sepering berdua.
Waktu kala itu sudah jam setengah 9 malam saat kami berhenti di Krian sambil tanya-tanya dan crita kepada pemilik warung tentang kisah perjalanan kami yang baru pertama kali nekad ke Surabaya naik sepeda motor. Dari sana aku mendapat pelajaran berharga lagi, pelajaran dan nasihat di seorang bapak penjaga warung yakni beliau berpesan kalau masuk kota besar itu jangan pernah malu untuk bertanya dan juga menguatkan kami akan maksud dan tujuan kami ke Surabaya agar menjadikan segala hal yang terjadi pada kami sebagai pengalaman, ambil sisi positifnya dan jangan pernah menyerah meraih masa depan. Maka hanya ucapan terima kasih bapak telah mengajarkan kami sebuah semangat dan menghargai pengalaman. Cukup lama juga kami berhenti di warung tersebut selain untuk mengisi perut tapi juga untuk mengumpulkan energi dan menata strategi perjalanan pulang kami selanjutnya, karena bagaimanapu masih panjang jalan yang harus kami termpuh untuk sampai tujuan kota Kediri. Ibarat belum ada separuh perjalanan yang kami lewati menuju kota Kediri dan kami harus mempersiapkan perjalanan panjang lagi.
Perjalanan dilanjutkan kembali setelah perut terisi sehingga ada energy yang digunakan untuk perjalanan, sebenarnya saat aku makan perutku sudah terlalu lapar dan setelah makan bukannya menjadi kenyang tapi malah semakin gemetar karena terlalu kosong perut inu, namun apalah terlalu lama berhenti juga tidak tenang karena perjalanan pulang masih jauh yakni masih harus melewati 3 kota/ kabupaten lagi yakni Mojokerto, Mojoagung, Jombang dan Pare hingga sampai Kediri untuk benar-benar istirahat. Saat kami berhenti di Krian sempat juga menghubungi Anam dan Anas lewat sms untuk menanyakan posisi mereka saat itu telah sampai mana saja karena kami telah terpisah jalur cukup jauh, hingga akhirnya kami sepakat untuk mencari arah masing-masing dan bertemu di Alun-alun Jombang, maka dari itu aku dan Musa hanya fokus pada satu tujuan yakni agar bisa sampai di Alun-alun Jombang secepatnya.
Jalan panjang lagi yang harus kami termpuh untuk sampai Kota Kediri melewati arah Mojokerto, di setia perempatan atau percabangan jalan kami tak lupa untuk bertanya arah jalan yang benar menuju Jombang. Sebenarnya arah yang kami lewati sudah benar namun karena dari kejadian yang sudah lewat menjadikan kami tersesat berulang kali maka kami selalu bertanya setiap ada keraguan dalam hati. Kami bertanya lanjutkan jalan, bertanya lagi dan lanjutkan jalan begitu seerusnya setiap kami melewati perembatan yang menjadikan keraguan kami muncul.
Kami berjalan dengan kecepatan yang lumayan cepat sekitar 70-80 km/jam, karena jalan yang kami lewati cukup sepi di malam hari, hanya ada mobil-mobil besar yang lewat. Dengan cepat kami melewati arah Mojokerto hinga Mojoagung. Terasa lama juga aku merasa berkendara hingga aku memutuskan untuk bertanya kembali pada orang sekitar, katanya masih ada sekitar 1 jam untuk sampai Mojoagung, huf lama juga. Perlahan tapi pasti kami enyusri jalan walau sudah malam tapi semangat kami tidak pernah pupus. Entah dapat darimana energi sekuat itu sementara aku sendiri tidak pernah melakukan perjalanan keluar kota sama sekali, mungkin ada paling jauh sampai Tulungagung itupun masih daerah Tulungagung bagian utara. Aku rasa energy sekuat itu kami dapatkan dari kebulatan tekad dan semangat. Dengan semangat dan tekad niat yang mantab, segala halangan dan rintangan akan menjadi tiada berarti, semangat merubah masa depan dan semangat untuk pulang tentunya.
Jalan Mojokerto hingga Mojoagung yang panjang terus sampai juga kami kearah Jombang dan langsung saja aku bertanya kembali arah Alun-alun Jombang, karena kami akan bertemu di sana dengan Anas dan Anam. Sebenarnya kalaupun kami langsung pulang kearah Kediri melewati Ngoro-Pare bisa saja langsung mencari arah itu, namun karena terlanjur janji untuk mencari dan bertemu di Alun-alun Jombang, aku mencari arah tersebut hingga sampai juga di Alun-alun jombang. Kami beristirahat sebentar di Alun-alun Jombang untuk sekedar mendinginkan mesin sepeda motor. Langsung saja aku hubungi Anam atau Anas bahwa kami telah sampai di Alun-alun Jombang agar mereka segera mencari arah dan bertemu di sana. Dan ternyata setelah aku menghubungi mereka malah semakin nyasar tak tahu arah yangmereka lewati, katanya melwati jalur besar yang ada hanya Truk-truk besar proyek di jalan tersebut, aku sarankan untuk bertanya arah ke Jombang tapi mereka tidak mau katanya tidak ada orang sama sekali di pinggir jalan semua sepi hanya truk besar yang sedang berjalan dan tidak mungkin untuk ditanyai. Aku sempat memaki-maki Anam yang katanya berjanji untuk bertemu di Alun-alun Jombang namun tidak menapatinya, kesal dan dongkol juga dalam hati setelah capek-capek mencari arah Alun-alun Jombang namun tidak ada hasil apa-apa. Kalaupun tadi tidak berjanji bertemu disana aku bisa langsung mencari arah untuk pulang ke Kediri tanpa harus memutar arah mencari Alun-alun Jombang segala, namun aku yakin segalanya tidak ada yang sia-sia, akrena telah diatur oleh Sang Maha Pengatur.
Tiada hasil nyata yang kami peroleh setelah memutar capek-capek mencari Alun-alun Jombang, maka kami memutuskan untuk mencari jalan pulang masing-masing dengan caranya sendiri-sendiri. Segala alat komunikasi kami putuskan untuk tidak dihiraukan, aku bertekad untuk dapat pulang secepatnya karena badan sangat lelah. Kami bertanya kembali arah terakhir yakni menuju Ngoro dan Pare kapada seorang penjaga warung di sekitar Alun-alun Jombang sampai kami menemukan arahnya dan melanjutkan perjalanan panjang kami lagi untuk pulang. Karena kalau kami sudah bisa sampai kea rah Ngoro-Pare, kami sudah seikit banyak bisa mencari arah ke Kediri tanpa bertanya lagi.
Dari Alun-alun menuju Ngoro cukup jauh sekitar 8 km perjalanan yang harus kami tempuh. Cukup lama lagi kami harus berkendara di perjalanan tersebut namun pasti kami bisa melewatinya dan sampai di tujuan terakhir Kota Kediri. Setelah cukup lama perjalanan kami lewati akhirnya kami membaca di papan arah pinggir jalan ada tulisan Ngoro, Pare, Kediri. Kami mengikuti jalur yang terteras disana tanpa berani untuk berinisiatif mengambil jalur alternative, kami hanya mengambil di jalur utama. Dalam perjalanan yang ada hanya do’a dan konsetrasi sambil terus membacar tanda-tanda arah yang ada di setiap tepi jalan hingga sampailah kami di Ngoro dengan selamat. Perjalanan ini belum usai dalam pikiran kami saat itu, karena masih harus melewati Badar Pare yang penuh dengan persawahan dan jarang ada perumahan warga. Perasaan tenang sudah mulai ada dalam hati ini kala sudah ada di wilayah Badas Pare, kerena sebentar lagi sudah bisa sampai ke Kediri meski harus melewati persawahan lagi.
Perjalanan berlanjut sampai Badas, disana sempat menghubungi Nur Latifah karena aku punya pemikiran agar Musa menginap saja dirumahnya Lala, setelah di hubungi dan Lala oke siap untuk ditempati menginap namun aku sendiri yang yang menggagalkan rencana tersebut karena rumah Lala termasuk daerah persawahan dan aku sendiri sudah lupa arah mencari rumahnya, takutnya malah semakin tersesat karena harus mencari-cari dahulu rumah Lala. Kami memutuskan untuk tidak jadi ke rumah Lala dan langsung daja menuju arah Kediri melewati bundaran Garuda Pare terus kearah Simpang Lima Gumul (SLG). Perlahan tapi pasti kami melewati jalan-jalan yang cukup sepei karena waktu itu sudah masuk jam setengah 11 malam lebih, sebelum sampai di Simpang Lima Gumul terlebih dahulu kami mengisi BBM di sebuah SPBU timurnya Simpang Lima Gumul (SLG). Saat mengisi BBM tersebut ada cerita lucu yakni waktu kami ditanyai oleh seorang petugas SPBU dari mana, aku menjawab dari Surabaya, terus petugas itu melihat kea rah Musa dan menyapa pelan “Mbak” sambil melihat betapa terlihat sangat capek Musa saat itu, terang saja batinku perjalanan dari jam 6 sore baru bisa nyampai lokasi jam 11 malem, 5 jam perjalanan naik sepeda motor sangat melelahkan.
Perjalananpun berlanjut dengan santai karena sudah semakin dekat dengan Kota Kediri. Aku memutuskan melewati jalan arah PG Pesantren Baru yang jalanan cukup sepi sehingga dapat melewati perjalanan dengan cepat hingga tanpa terasa telah sampai di PG Pesantren Baru lalu dilanjutkan kea rah Kota Kediri melewati jalan alternative jurusan Kelurahan Betet. Saat akan melewati jalan tembus arah Kelurahan Betet itu Musa bertanya apa kita akan melewati “Barongan”, aku jawab iya karena itu jalan yang paling cepat menuju tujuan akhir, dan dia bilang katanya takut, aku jawab saja bahwa sudah terlambat untuk takut karena dari tadi kita melewati jalan-jalan persawahan tanpa takut dan ini tinggal sedikit sudah aku berani-beranikan diri malah dia takut-takuti. Cukup serem juga sebenarnya, namun rasa takut itu mungkin sudah aku tutup dengan kepasrahan agar dapat segera sampai di kost dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Sampai juga kami di jalan Betet Bawang, jalan yang menjadi tujuan kahir perjalanan pulang kami. Kami memutuskan untuk mepir dulu di sebuah warung untuk mengisi perut yang sudah kosong dari terakhir aku makan di Krian Sidoarjo. Warung yang kami singahi adalah milik orang tua dari murid TPA kami yang sudah cukup kenal denganku, aku memesan makan Nasi Pecel dengan Teh Hangat, sedangkan Musa memilih Nasi Goreng dengan Air Mineral saja. Kami makan dengan lahapnya karena terlalu lapar perut kami. Sambil makan sambil mengobrol kesana kemari tentang perjalanan yang kami lewati tadi mulai dari berangkat ke Surabaya hingga sampai perjalanan pulang ke Kediri lagi yang malam itu baru bisa sampai setelah 5 jam perjalanan. Kami mengobrol santai hingga teringat Anas dan aku langsung menghubunginya, aku telfon sudah sampai mana, dia menjawab bahwa posisinya masih di jalan menuju Kota Kediri, kami tertawa sendiri yang sudah sampai dari tadi dan sudah habis makan satu piring, eh lupa Musa makan nasi gorengnya tidak habis baru habis setengah karena memang porsinya lumayan banyak, maka aku berkata gampang nanti biar aku habiskan atau siapa nanti yang datang belakangan Anam atau Anas untuk menghabiskan nasi gorengnya.
Sekitar setengah jam kami menunggu Anas dan Anam di warung tersebut, cukup lama juga kami ngobrol dan menunggu setelah kami beri tahu lokasi warung dimana kami makan. Mereka ternyata langsung di Masjid meletakkan tas dan barang bawaannya terlebih dahulu, lalu baru menuju warung yang kami tunjukkan lokasinya. Jam setengah 12 malam Anam dan Anas baru sampai di warung dan langsung memesan makan, sedangkan nasi gorengnya Musa adalah Anas yang siap untuk menghabiskan, di mix dengan pesanan nasi gorengnya sendiri. Kami ngobrol-ngonrol lagi sambil makan bercerita tentang keruwetan perjalanan pulang kami tadi, masing-masing mempunyai cerita yang unik sendiri-sendiri.
Kami memutuskan pulang dari warung tepat jam 12 malam dan langsung menuju Mushola. Maslah berikutnya yang ada adalah dimana Musa akan menginap untuk malam itu, pilihan di pondok tidak mungkin sudah terlalu malam, di kost teman juga sudah tidur, dan hanya ada 2 pilihan yakni di Mushola kost ku atau di Masjid tempat Anam menginap. Ankhirnya pilihan yang paling menungkinkan yakni di Mushola kost ku, karena Musa juga sudah kenal dengan yang dekat Mushola. Kami langsung menata untuk tidur dengan keadaan terpaksa Musa aku suruh tidur di Mushola bagian tempat jama’ah putri Cuma aku sediakan Bantal karena dicarikan selimut dia menolaknya. Waktu sudah jam 12 lebih dan Musa langsung tidur sedangkan aku memilih tidur di teras sambil jaga-jaga ditemani nonton film di laptop baru bisa tidur jam 1 malam.
Pagi jam 4 subuh, yang bangun paling awal dan segera Adzan Subuh, siap-siap jama’ah dan membangunkan teman-teman yang lain, sedangkan Musa sudah siap-siap untuk pulang menunggu barengan Anas mau ke Terminal sebelum naik Bus menuju Bojonegoro. Semalem kami memang sudah sepakat untuk yang mengantar Musa ke terminal adalah Anas karena sekalian pulang ke Nganjuk. Jam setengah 5 tepat saat aku berjama’ah Shalat Subuh, Musa berangkat dengan Anas ke terminal untuk naik Bus menuju Bojonegoro. Usai shalat subuh Musa sudah tak ada di Mushola dan aku sendiri pengennya tidur lagi tapi sangat sulit rasanya untuk tidur, entah kenapa dan apa sebabnya sampai pagi dan siang aku tidak bisa tidur. Sekitar jam 10 pagi baru sms ku kepada Anam dibalas, katanya dia baru bangun tidur setelah Shalat Subuh tidur lagi, sedangkan aku cerita kalau aku tidak bisa tidur padahal aku tidur hanya dari jam 1 malam sampai jam 4 pagi. Aku baru bisa benar-benar tidur sekitar jam setengah 12 samapi jam 12 siang waktu ada Adzan Dzuhur berkumandang, memang sangat nyaman tidur ketika waktu shalat. Teakhir aku ingat sebelum tidur adalah ketika ada yang Adzan Dhuhur di Mushola sekitar setengah jam baru aku terbangun dan jama’ah belum dimulai, maka aku bisa masih mendapat bagian untuk berjama’ah Shalat Dhuhur. Hingga sore hari kau hanya di kamar dan melihat film di laptop sampai sekitar jam 3 sore dan memulai kegiatan seperti biasa yakni mengajar di TPQ.
Semua cerita seharian ketika berangkan ke Surabaya hingga kembali ke Kediri menjadi cerita yang sangat berkesan bagi kami berempat. Terlepas dari pengalaman masing-masing dalam memaknai perjalanan yang kami tempuh, namun hal itu yang terpenting bagi kami adalah telah mendapat pelajaran berharga dan tak akan pernah terlupakan dalam setiap kisah hidup kami selamanya, bisa dijadikan cerita kepad anak cucu nantinya tentang pengalaman tersebut. Saatnya mempersiapkan untuk perjalanan menaklukan Kota Surabaya berikutnya agar jangan sampai persiapan yang ada menjadi perjalan yang tak akan terlupakan lagi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bolang Ke Surabaya Part 1


Tepat hari ini ada waktu hari pengumpulan terakhir berkas persyaratan CPNS di Surabaya. Gak bisa membayangkan andaikan hari ini yang mengumpulkan ada berapa ribu lagi yang ada di antrian. Ya tepat jam setengah 6 pagi itu kami berempat berangkat bersama setelah berkumpul dan menata strategi dahulu di kampus STAIN Kediri. Musa teah menunggu di kampus waktu kami datang siap untuk berangkat. Sebelum berangkat kami cek-cek ulang semua persyaratan dan kebutuhan yang diperlukan agar jangan sampai ada yang kurang dan tertinggal saat kami berangkat. Eh ternyata Musa tidak memakai sepatu, akhirnya memutuskan untuk meminjam sepatu di salah satu teman kampus yang tinggal di kost dekat kampus. Dan Anam kembali ke pondok untuk mengambil Akta IV yang mungkin diperlukan sebagai bahan pendaftaran walau sebenarnya dalam draft persyaratan tidak dicantumkan. Setelah semua siap dan lengkap semua persyatatan dan kebutuhan kami berangkat menjelajah ke Kota Surabaya yang hanya bermodalkan peta yang dicetak dari Google Maps. Petualangan baru akhirnya dimulai.
Kami berangkat awalnya melewati Jalan Kapten Piere Tendean atau perempatan Bence ke utara sampai dengan RS Babtis kearah timur sampai PG Pesantren Baru dan dilanjutkan arah bundaran monument SLG. Lalu diteruskan kearah timur yakni Pare, terus hingga pare kami ambil arah Ngoro Jombang. Perjalanan dilanjutkan dengan mengambil arah jalur alternative yang aku sendiri juga tak tahu arahnya, karena yang di depan adalah Anas dan Anam. Hingga perjalanan panjang akhirnya sampai jalur utama Sidoarjo-Surabaya, eh mungkin masih belum Sidoarjo tapi sudah jelas arahnya karena menjadi jalur utama seperti yang tergambar dalam peta. Perjalanan berlanjut hingga di sebuah SPBU kami berhenti sebentar untuk mengisi BBM dan rehat sebentar menata strategi yang selanjutnya. Sampai SPBU sekitar jam setengah 8 pagi, rehat disana sekitar setengah jam kami shalat Dhuha dan sekedar sarapan roto yang dibawakan oleh Musa. Kami berangkat berempat sama-sama tanpa sarapan dahulu, jadi perut benar-benar kosong belum terisi nasi sama sekali.
Kami berangkat melanjutkan perjalanan sekitar jam 8 pagi. Cukup lama juga rehat di SPBU dan sedikit memulihkan energi yang dipakai perjalanan sebelumnya. Perjalanan panjang menuju kota Surabaya pun berlajut dengan panjang, kami terus melewati jalan-jalan besar di jalur utama. Cukup macet juga nyampai daerah Sidoarjo yang pedat merayap di jalan raya dijejali oleh mobi dan motor yang ada. Kami berjalan cukup pelan sambil mencari celah untuk dapat melanjutkan perjalanan agar cepat sampai di Surabaya. Sedikit demi sedikit kami terus menyusuri jalan raya tanpa tahu arah utara atau selatan, yang penting adalah mencari petunjuk arah menuju Surabaya di setiap ujung jalan akan melewati tikungan-tikungan baik perempatan atau pertigaan dan juga bundaran.
Setelah melewati jalan panjang yang cukup menegangkan dan penuh drama. Kami sampai juga memasuki kota Surabaya dengan selamat sekitar jam 9 pagi. Kami melanjutkan perjalanan melewati Jalan A. Yani. Nah setelah melewati jalan A. Yani tersebut bodohnya kami adalah tidak bertanya sama sekali atau melihat peta yang kami buat. Kami berjalan dengan penuh percaya dirinya jalan lurus yang terlebati, sungguh kebodohan yang amat sangat kami tidak mau bertanya karena ternyata jalur yang kami ambil tersebut salah, harusnya dari jalan A. Yani kami belok ke arah kanan tepat dibawah jalan lajang, tapi kami malah mengambil jalan lurus sehingga sulit menemukan tempat-tempat yang kami tandai dalam peta, karena kami memang salah jalur. Karena sadar ada yang janggal dan tidak beres kami memutuskan berhenti di pinggir jalan untuk kembali melihat peta. Setelah memperhatikan tempat dan jalan yang ada di peta dan yang kami lewati, kami baru sadar telah salah arah dengan posisi jauh di sebelah barat lokasi yang kami tuju sedangkan lokasi sebenarnya dalam rute adalah melewati sebelah timurnya dan mengarah ke barat. Kami berusaha memecahkan masalah yang ada dengan tidak lelah-lelahnya untuk bertanya kepada siapapun yang dapat kami tanyai. Saat itu sudah jam setengah 10 pagi. Namun karena tersasar dan mencari rute yang benar kami baru bisa sampai lokasi jam 10.15 pagi.
Huft perjalanan panjang yang begitu melelahkan dan penuh tantang dan yang penting dalam modal kami berangkan adalah modal membaca dan bertanya. Seperti yang dipesankan teman kami yang lebih dahulu mngumpulkan berkas, agar kita langsung mengambil nomor antrian, kamipun langsung menuju petugas bagian nomor antrian masuk, saat itu sudah termasuk saat-saat terakhir, karena nomor antrian yang aku tahu sampai akhirnya di tutup di hari itu adalah 6500, sedangkan kami berempat beruntun mendapat nomor Anam 6484, aku nomor 6485, Anas di nomor 6486 dan terakhir Musa 6487, sudah di 20 angka terakhir jatah hari itu. Alhamdulillah kami dan teman-teman mengucap syukur yang tiada lelah-lalahnya karena masih mendapat nomor antrian setelah kami ketahui ada yang datang jam setengah 11 atau lebih sudah tidak mendapat nomor antrian masuk hari itu, jadi harus menunggu hari besoknya untuk antri kembali.
Setelah mendapat nomor antrian kami langsung mencari tempat yang tenang untuk mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan sambil menunggu panggilan yang sepertinya sampai sore kami baru bisa masuk mengumpulkan berkas. Malam harinya sebelum berangkat sebenarnya semua sudah siap-siap dengan surat lamaran dan pernyataan yang kami tulis, namun karena ada beberapa kesalahan-kesalahan yang cukup fatal, sebenarnya kami juga tidak yakin akan kesalahan apa yang mungkin disalahkan, namun aku dan teman-teman berusaha menulis ulang surat lamaran dan pernyataan walau materai 6rb nya. Dasar otak kreatif itu seringkali muncul disaat-saat genting dan kepepet, ada saja cara untuk membri trik agar materai 6rb yang telah tertempel dan ada tanda tangannya itu kami tata dengan rapi agar bisa dipakai lagi tanpa harus beli materai lagi. Semua itu karena untuk penghematan anggaran. Sebelum berangkat aku telah siap membawa lem kertas dan Anam ternyata siap dengan gunting.
Dari kami berempat yang inisiatif untuk menulis ulang awalnya adalah aku karena memang merasa banyak kesalahan di tulisan yang aku buat semalam, aku menulis dengan tanpa terburu-buru aku sambil ngobrol agar tidak terlalu terpaku pada tulisanku, karena kalau terlalu fokus tingkat kesalahan tulisan lebih besar. Dilanjutkan Anas yang juga ikut nulis ulang karena dia juga merasa ada kesalahan dalam tulisannya, dia nulis lebih cepat daripada tulisanku. Aku sempet digodain karo Mus saat nulis, aku bilang “ah yang jangan ganggu dulu napa aku nulis lama banget kie”, he tanpa lainnya sadar apa yang aku ucapkan. Lalu si Mus yang awalnya sudah yakin dengan tulisannya malah ikut-ikutan ragu dan juga menulis ulang lamaran dan pernyataan namun sambil ngobrol-ngobrol. Saat itu kami mengambil tempat di lantai 2 dekat dengan toilet wanita, sebenarnya bukan wanita aja yang disana karena kata orang-orang semua toilet kog cuma wanita, ya terang aja ini juga Gedung Wanita. Si Mus juga sempet ganggu Anas yang nulis ulang juga lamaran dan pernyataan, berempat ada cewek 1 bisa dijadikan hiburan untuk guyon-guyonan. Sambil ngobrol santai gak kerasa sampai sekitar jam setengah 1 siang dan kami selesai menulis, tapi yang terlalu PD dan gak menulis ulang cuma Anam, tapi biarlah toh resiko ditanggung sendiri-sendiri.
Saat telah selesai semua menulis kami memutuskan untuk mencari Mushola atau Masjid guna melaksanakan ibadah Shalat Dhuhur dan kami memilih mushola yang ada di luar lingkungan gedung sambil jalan-jalan mengurangi rasa penat. Jalan kaki sekitar 200m kami menemukan Mushola juga akhirnya. Kami semua rehat dan ngobrol-ngobrol sebelum melaksanakan Shalat Dhuhur. Setelah usai Shalat Dhuhur Aku, Anam dan Mus memutuskan untuk membeli makanan di warung sekitar Mushola karena dari pagi emang perut belum terisikan nasi sedikitpun sedangkan Anas gak mau diajak makan ya udah dia tidur di Mushola sambil jagain barang bawaan kami. Gak jauh dari Mushola sekitar 10an meter kami mampir di warung untuk makan siang, perut terasa kosong banget yang belum makan nasi dari pagi Cuma terisi 2 atau 3 potong roti. Gaya sarapan orang bule ternyata malah tetep bikin laper.
Cukup murah juga sih makan disana, makan dan minum kopi aku Cuma habis 7rb. Selesai makan bersama kami langsung menuju Mushola dengan membawakan es teh buat Anas kasihan belum terisi makanan. Selesai makan kami ngobrol-ngobrol di Mushola dan Mus ketemu cewek yang juga mau daftar CPNS bagian perawat. Katanya datengnya sudah jam setengah sebelas sehingga gak kebagian nomor antrian, mereka bermaksud menginap di Surabaya agar esok harinya bisa mendapat nomor antrian lagi, tapi ternyata buakn itu saja yang menjadi masalah bagi perawat harus menyertakan surat semacam surat praktik dari kampus, padahal mereka baru lulus tahun ini dan surat tersebut belum keluar dari kampus, katanya keluarnya sekitar Januari tahun depan. Hal ini juga yang menjadikan kami berempat jadi tambah untuk bersyukur karena masih mendapat nomor antrian walau sudah paling belakang. Si Anam juga bertemu dengan seorang bapak yang sedesa dengannya, kabar yang didapat dari bapak itu beliau gak kebagian nomor antrian hingga kalo ingin mengumpulkan berkas harus kembali lagi hari esok atau sampai terakhir pemberkasan dan tanpa telat lagi.
To be continued…again.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS