Search

RSS

Bolang Ke Surabaya Part 3


Fokus perjalanan kami berikutnya adalah menuj arah Sidoarjo-Mojokerto, arah yang harus diambil adalah jalur besar karena untuk melewati jalur-jalur alternatif pada malam hari lebih beresiko untuk tersesat bagi kami. Kami berjalanan cengan cepat tapi tidak pernah lelah ataupun malu unuk bertanya apabila aku merasa kurang yakin dengan arah perjalanan tersebut. Sampai berapa kali aku harus bertanya aku sendiri sudah lupa mungkin karena saking banyaknya bertanya. Saat itu kami keluar menuju arah sidoarjo dan ditunjukkan untuk melewati Krian yang merupakan Kecamatan paling barat Sdoarjo dan menjadi awal masuk Mojokerto. Kami bertanya berulang kali hingga akhirnya bisa sampai Keamatan Krian, karena kondisi badan yang capek berat dan perut yang dalam keadaan kosong maka kami memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah warung untuk sekedar membeli minuman dan makanan kecil. Aku membeli satu botol minuman ringan dan mie instan rebus, sebenarnya di warung sebelahnya ada mie ayam tapi aku memilih mie instan saja yang lebih cepat karena keadaan perutku yang sangat lapar. Musa cuma membeli semacam kripik makroni pedas, karena aku tawarin makan dia gak mau cuma makan snack itu aja dan minum minuman ringan yang kupesan tadi, sebotol berdua romantis juga walau tak mampu sepering berdua.
Waktu kala itu sudah jam setengah 9 malam saat kami berhenti di Krian sambil tanya-tanya dan crita kepada pemilik warung tentang kisah perjalanan kami yang baru pertama kali nekad ke Surabaya naik sepeda motor. Dari sana aku mendapat pelajaran berharga lagi, pelajaran dan nasihat di seorang bapak penjaga warung yakni beliau berpesan kalau masuk kota besar itu jangan pernah malu untuk bertanya dan juga menguatkan kami akan maksud dan tujuan kami ke Surabaya agar menjadikan segala hal yang terjadi pada kami sebagai pengalaman, ambil sisi positifnya dan jangan pernah menyerah meraih masa depan. Maka hanya ucapan terima kasih bapak telah mengajarkan kami sebuah semangat dan menghargai pengalaman. Cukup lama juga kami berhenti di warung tersebut selain untuk mengisi perut tapi juga untuk mengumpulkan energi dan menata strategi perjalanan pulang kami selanjutnya, karena bagaimanapu masih panjang jalan yang harus kami termpuh untuk sampai tujuan kota Kediri. Ibarat belum ada separuh perjalanan yang kami lewati menuju kota Kediri dan kami harus mempersiapkan perjalanan panjang lagi.
Perjalanan dilanjutkan kembali setelah perut terisi sehingga ada energy yang digunakan untuk perjalanan, sebenarnya saat aku makan perutku sudah terlalu lapar dan setelah makan bukannya menjadi kenyang tapi malah semakin gemetar karena terlalu kosong perut inu, namun apalah terlalu lama berhenti juga tidak tenang karena perjalanan pulang masih jauh yakni masih harus melewati 3 kota/ kabupaten lagi yakni Mojokerto, Mojoagung, Jombang dan Pare hingga sampai Kediri untuk benar-benar istirahat. Saat kami berhenti di Krian sempat juga menghubungi Anam dan Anas lewat sms untuk menanyakan posisi mereka saat itu telah sampai mana saja karena kami telah terpisah jalur cukup jauh, hingga akhirnya kami sepakat untuk mencari arah masing-masing dan bertemu di Alun-alun Jombang, maka dari itu aku dan Musa hanya fokus pada satu tujuan yakni agar bisa sampai di Alun-alun Jombang secepatnya.
Jalan panjang lagi yang harus kami termpuh untuk sampai Kota Kediri melewati arah Mojokerto, di setia perempatan atau percabangan jalan kami tak lupa untuk bertanya arah jalan yang benar menuju Jombang. Sebenarnya arah yang kami lewati sudah benar namun karena dari kejadian yang sudah lewat menjadikan kami tersesat berulang kali maka kami selalu bertanya setiap ada keraguan dalam hati. Kami bertanya lanjutkan jalan, bertanya lagi dan lanjutkan jalan begitu seerusnya setiap kami melewati perembatan yang menjadikan keraguan kami muncul.
Kami berjalan dengan kecepatan yang lumayan cepat sekitar 70-80 km/jam, karena jalan yang kami lewati cukup sepi di malam hari, hanya ada mobil-mobil besar yang lewat. Dengan cepat kami melewati arah Mojokerto hinga Mojoagung. Terasa lama juga aku merasa berkendara hingga aku memutuskan untuk bertanya kembali pada orang sekitar, katanya masih ada sekitar 1 jam untuk sampai Mojoagung, huf lama juga. Perlahan tapi pasti kami enyusri jalan walau sudah malam tapi semangat kami tidak pernah pupus. Entah dapat darimana energi sekuat itu sementara aku sendiri tidak pernah melakukan perjalanan keluar kota sama sekali, mungkin ada paling jauh sampai Tulungagung itupun masih daerah Tulungagung bagian utara. Aku rasa energy sekuat itu kami dapatkan dari kebulatan tekad dan semangat. Dengan semangat dan tekad niat yang mantab, segala halangan dan rintangan akan menjadi tiada berarti, semangat merubah masa depan dan semangat untuk pulang tentunya.
Jalan Mojokerto hingga Mojoagung yang panjang terus sampai juga kami kearah Jombang dan langsung saja aku bertanya kembali arah Alun-alun Jombang, karena kami akan bertemu di sana dengan Anas dan Anam. Sebenarnya kalaupun kami langsung pulang kearah Kediri melewati Ngoro-Pare bisa saja langsung mencari arah itu, namun karena terlanjur janji untuk mencari dan bertemu di Alun-alun Jombang, aku mencari arah tersebut hingga sampai juga di Alun-alun jombang. Kami beristirahat sebentar di Alun-alun Jombang untuk sekedar mendinginkan mesin sepeda motor. Langsung saja aku hubungi Anam atau Anas bahwa kami telah sampai di Alun-alun Jombang agar mereka segera mencari arah dan bertemu di sana. Dan ternyata setelah aku menghubungi mereka malah semakin nyasar tak tahu arah yangmereka lewati, katanya melwati jalur besar yang ada hanya Truk-truk besar proyek di jalan tersebut, aku sarankan untuk bertanya arah ke Jombang tapi mereka tidak mau katanya tidak ada orang sama sekali di pinggir jalan semua sepi hanya truk besar yang sedang berjalan dan tidak mungkin untuk ditanyai. Aku sempat memaki-maki Anam yang katanya berjanji untuk bertemu di Alun-alun Jombang namun tidak menapatinya, kesal dan dongkol juga dalam hati setelah capek-capek mencari arah Alun-alun Jombang namun tidak ada hasil apa-apa. Kalaupun tadi tidak berjanji bertemu disana aku bisa langsung mencari arah untuk pulang ke Kediri tanpa harus memutar arah mencari Alun-alun Jombang segala, namun aku yakin segalanya tidak ada yang sia-sia, akrena telah diatur oleh Sang Maha Pengatur.
Tiada hasil nyata yang kami peroleh setelah memutar capek-capek mencari Alun-alun Jombang, maka kami memutuskan untuk mencari jalan pulang masing-masing dengan caranya sendiri-sendiri. Segala alat komunikasi kami putuskan untuk tidak dihiraukan, aku bertekad untuk dapat pulang secepatnya karena badan sangat lelah. Kami bertanya kembali arah terakhir yakni menuju Ngoro dan Pare kapada seorang penjaga warung di sekitar Alun-alun Jombang sampai kami menemukan arahnya dan melanjutkan perjalanan panjang kami lagi untuk pulang. Karena kalau kami sudah bisa sampai kea rah Ngoro-Pare, kami sudah seikit banyak bisa mencari arah ke Kediri tanpa bertanya lagi.
Dari Alun-alun menuju Ngoro cukup jauh sekitar 8 km perjalanan yang harus kami tempuh. Cukup lama lagi kami harus berkendara di perjalanan tersebut namun pasti kami bisa melewatinya dan sampai di tujuan terakhir Kota Kediri. Setelah cukup lama perjalanan kami lewati akhirnya kami membaca di papan arah pinggir jalan ada tulisan Ngoro, Pare, Kediri. Kami mengikuti jalur yang terteras disana tanpa berani untuk berinisiatif mengambil jalur alternative, kami hanya mengambil di jalur utama. Dalam perjalanan yang ada hanya do’a dan konsetrasi sambil terus membacar tanda-tanda arah yang ada di setiap tepi jalan hingga sampailah kami di Ngoro dengan selamat. Perjalanan ini belum usai dalam pikiran kami saat itu, karena masih harus melewati Badar Pare yang penuh dengan persawahan dan jarang ada perumahan warga. Perasaan tenang sudah mulai ada dalam hati ini kala sudah ada di wilayah Badas Pare, kerena sebentar lagi sudah bisa sampai ke Kediri meski harus melewati persawahan lagi.
Perjalanan berlanjut sampai Badas, disana sempat menghubungi Nur Latifah karena aku punya pemikiran agar Musa menginap saja dirumahnya Lala, setelah di hubungi dan Lala oke siap untuk ditempati menginap namun aku sendiri yang yang menggagalkan rencana tersebut karena rumah Lala termasuk daerah persawahan dan aku sendiri sudah lupa arah mencari rumahnya, takutnya malah semakin tersesat karena harus mencari-cari dahulu rumah Lala. Kami memutuskan untuk tidak jadi ke rumah Lala dan langsung daja menuju arah Kediri melewati bundaran Garuda Pare terus kearah Simpang Lima Gumul (SLG). Perlahan tapi pasti kami melewati jalan-jalan yang cukup sepei karena waktu itu sudah masuk jam setengah 11 malam lebih, sebelum sampai di Simpang Lima Gumul terlebih dahulu kami mengisi BBM di sebuah SPBU timurnya Simpang Lima Gumul (SLG). Saat mengisi BBM tersebut ada cerita lucu yakni waktu kami ditanyai oleh seorang petugas SPBU dari mana, aku menjawab dari Surabaya, terus petugas itu melihat kea rah Musa dan menyapa pelan “Mbak” sambil melihat betapa terlihat sangat capek Musa saat itu, terang saja batinku perjalanan dari jam 6 sore baru bisa nyampai lokasi jam 11 malem, 5 jam perjalanan naik sepeda motor sangat melelahkan.
Perjalananpun berlanjut dengan santai karena sudah semakin dekat dengan Kota Kediri. Aku memutuskan melewati jalan arah PG Pesantren Baru yang jalanan cukup sepi sehingga dapat melewati perjalanan dengan cepat hingga tanpa terasa telah sampai di PG Pesantren Baru lalu dilanjutkan kea rah Kota Kediri melewati jalan alternative jurusan Kelurahan Betet. Saat akan melewati jalan tembus arah Kelurahan Betet itu Musa bertanya apa kita akan melewati “Barongan”, aku jawab iya karena itu jalan yang paling cepat menuju tujuan akhir, dan dia bilang katanya takut, aku jawab saja bahwa sudah terlambat untuk takut karena dari tadi kita melewati jalan-jalan persawahan tanpa takut dan ini tinggal sedikit sudah aku berani-beranikan diri malah dia takut-takuti. Cukup serem juga sebenarnya, namun rasa takut itu mungkin sudah aku tutup dengan kepasrahan agar dapat segera sampai di kost dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Sampai juga kami di jalan Betet Bawang, jalan yang menjadi tujuan kahir perjalanan pulang kami. Kami memutuskan untuk mepir dulu di sebuah warung untuk mengisi perut yang sudah kosong dari terakhir aku makan di Krian Sidoarjo. Warung yang kami singahi adalah milik orang tua dari murid TPA kami yang sudah cukup kenal denganku, aku memesan makan Nasi Pecel dengan Teh Hangat, sedangkan Musa memilih Nasi Goreng dengan Air Mineral saja. Kami makan dengan lahapnya karena terlalu lapar perut kami. Sambil makan sambil mengobrol kesana kemari tentang perjalanan yang kami lewati tadi mulai dari berangkat ke Surabaya hingga sampai perjalanan pulang ke Kediri lagi yang malam itu baru bisa sampai setelah 5 jam perjalanan. Kami mengobrol santai hingga teringat Anas dan aku langsung menghubunginya, aku telfon sudah sampai mana, dia menjawab bahwa posisinya masih di jalan menuju Kota Kediri, kami tertawa sendiri yang sudah sampai dari tadi dan sudah habis makan satu piring, eh lupa Musa makan nasi gorengnya tidak habis baru habis setengah karena memang porsinya lumayan banyak, maka aku berkata gampang nanti biar aku habiskan atau siapa nanti yang datang belakangan Anam atau Anas untuk menghabiskan nasi gorengnya.
Sekitar setengah jam kami menunggu Anas dan Anam di warung tersebut, cukup lama juga kami ngobrol dan menunggu setelah kami beri tahu lokasi warung dimana kami makan. Mereka ternyata langsung di Masjid meletakkan tas dan barang bawaannya terlebih dahulu, lalu baru menuju warung yang kami tunjukkan lokasinya. Jam setengah 12 malam Anam dan Anas baru sampai di warung dan langsung memesan makan, sedangkan nasi gorengnya Musa adalah Anas yang siap untuk menghabiskan, di mix dengan pesanan nasi gorengnya sendiri. Kami ngobrol-ngonrol lagi sambil makan bercerita tentang keruwetan perjalanan pulang kami tadi, masing-masing mempunyai cerita yang unik sendiri-sendiri.
Kami memutuskan pulang dari warung tepat jam 12 malam dan langsung menuju Mushola. Maslah berikutnya yang ada adalah dimana Musa akan menginap untuk malam itu, pilihan di pondok tidak mungkin sudah terlalu malam, di kost teman juga sudah tidur, dan hanya ada 2 pilihan yakni di Mushola kost ku atau di Masjid tempat Anam menginap. Ankhirnya pilihan yang paling menungkinkan yakni di Mushola kost ku, karena Musa juga sudah kenal dengan yang dekat Mushola. Kami langsung menata untuk tidur dengan keadaan terpaksa Musa aku suruh tidur di Mushola bagian tempat jama’ah putri Cuma aku sediakan Bantal karena dicarikan selimut dia menolaknya. Waktu sudah jam 12 lebih dan Musa langsung tidur sedangkan aku memilih tidur di teras sambil jaga-jaga ditemani nonton film di laptop baru bisa tidur jam 1 malam.
Pagi jam 4 subuh, yang bangun paling awal dan segera Adzan Subuh, siap-siap jama’ah dan membangunkan teman-teman yang lain, sedangkan Musa sudah siap-siap untuk pulang menunggu barengan Anas mau ke Terminal sebelum naik Bus menuju Bojonegoro. Semalem kami memang sudah sepakat untuk yang mengantar Musa ke terminal adalah Anas karena sekalian pulang ke Nganjuk. Jam setengah 5 tepat saat aku berjama’ah Shalat Subuh, Musa berangkat dengan Anas ke terminal untuk naik Bus menuju Bojonegoro. Usai shalat subuh Musa sudah tak ada di Mushola dan aku sendiri pengennya tidur lagi tapi sangat sulit rasanya untuk tidur, entah kenapa dan apa sebabnya sampai pagi dan siang aku tidak bisa tidur. Sekitar jam 10 pagi baru sms ku kepada Anam dibalas, katanya dia baru bangun tidur setelah Shalat Subuh tidur lagi, sedangkan aku cerita kalau aku tidak bisa tidur padahal aku tidur hanya dari jam 1 malam sampai jam 4 pagi. Aku baru bisa benar-benar tidur sekitar jam setengah 12 samapi jam 12 siang waktu ada Adzan Dzuhur berkumandang, memang sangat nyaman tidur ketika waktu shalat. Teakhir aku ingat sebelum tidur adalah ketika ada yang Adzan Dhuhur di Mushola sekitar setengah jam baru aku terbangun dan jama’ah belum dimulai, maka aku bisa masih mendapat bagian untuk berjama’ah Shalat Dhuhur. Hingga sore hari kau hanya di kamar dan melihat film di laptop sampai sekitar jam 3 sore dan memulai kegiatan seperti biasa yakni mengajar di TPQ.
Semua cerita seharian ketika berangkan ke Surabaya hingga kembali ke Kediri menjadi cerita yang sangat berkesan bagi kami berempat. Terlepas dari pengalaman masing-masing dalam memaknai perjalanan yang kami tempuh, namun hal itu yang terpenting bagi kami adalah telah mendapat pelajaran berharga dan tak akan pernah terlupakan dalam setiap kisah hidup kami selamanya, bisa dijadikan cerita kepad anak cucu nantinya tentang pengalaman tersebut. Saatnya mempersiapkan untuk perjalanan menaklukan Kota Surabaya berikutnya agar jangan sampai persiapan yang ada menjadi perjalan yang tak akan terlupakan lagi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment