Fokus perjalanan kami berikutnya adalah menuj arah
Sidoarjo-Mojokerto, arah yang harus diambil adalah jalur besar karena untuk
melewati jalur-jalur alternatif pada malam hari lebih beresiko untuk tersesat
bagi kami. Kami berjalanan cengan cepat tapi tidak pernah lelah ataupun malu
unuk bertanya apabila aku merasa kurang yakin dengan arah perjalanan tersebut.
Sampai berapa kali aku harus bertanya aku sendiri sudah lupa mungkin karena
saking banyaknya bertanya. Saat itu kami keluar menuju arah sidoarjo dan
ditunjukkan untuk melewati Krian yang merupakan Kecamatan paling barat Sdoarjo
dan menjadi awal masuk Mojokerto. Kami bertanya berulang kali hingga akhirnya
bisa sampai Keamatan Krian, karena kondisi badan yang capek berat dan perut
yang dalam keadaan kosong maka kami memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah
warung untuk sekedar membeli minuman dan makanan kecil. Aku membeli satu botol
minuman ringan dan mie instan rebus, sebenarnya di warung sebelahnya ada mie
ayam tapi aku memilih mie instan saja yang lebih cepat karena keadaan perutku
yang sangat lapar. Musa cuma membeli semacam kripik makroni pedas, karena aku
tawarin makan dia gak mau cuma makan snack itu aja dan minum minuman ringan
yang kupesan tadi, sebotol berdua romantis juga walau tak mampu sepering
berdua.
Waktu kala itu sudah jam setengah 9 malam saat kami
berhenti di Krian sambil tanya-tanya dan crita kepada pemilik warung tentang
kisah perjalanan kami yang baru pertama kali nekad ke Surabaya naik sepeda
motor. Dari sana aku mendapat pelajaran berharga lagi, pelajaran dan nasihat di
seorang bapak penjaga warung yakni beliau berpesan kalau masuk kota besar
itu jangan pernah malu untuk bertanya dan juga menguatkan kami akan maksud
dan tujuan kami ke Surabaya agar menjadikan segala hal yang terjadi pada kami
sebagai pengalaman, ambil sisi positifnya dan jangan pernah menyerah meraih
masa depan. Maka hanya ucapan terima kasih bapak telah mengajarkan kami sebuah
semangat dan menghargai pengalaman. Cukup lama juga kami berhenti di warung
tersebut selain untuk mengisi perut tapi juga untuk mengumpulkan energi dan
menata strategi perjalanan pulang kami selanjutnya, karena bagaimanapu masih
panjang jalan yang harus kami termpuh untuk sampai tujuan kota Kediri. Ibarat
belum ada separuh perjalanan yang kami lewati menuju kota Kediri dan kami harus mempersiapkan
perjalanan panjang lagi.
Perjalanan
dilanjutkan kembali setelah perut terisi sehingga ada energy yang digunakan
untuk perjalanan, sebenarnya saat aku makan perutku sudah terlalu lapar dan
setelah makan bukannya menjadi kenyang tapi malah semakin gemetar karena
terlalu kosong perut inu, namun apalah terlalu lama berhenti juga tidak tenang
karena perjalanan pulang masih jauh yakni masih harus melewati 3 kota/
kabupaten lagi yakni Mojokerto, Mojoagung, Jombang dan Pare hingga sampai
Kediri untuk benar-benar istirahat. Saat kami berhenti di Krian sempat juga
menghubungi Anam dan Anas lewat sms untuk menanyakan posisi mereka saat itu
telah sampai mana saja karena kami telah terpisah jalur cukup jauh, hingga
akhirnya kami sepakat untuk mencari arah masing-masing dan bertemu di Alun-alun
Jombang, maka dari itu aku dan Musa hanya fokus pada satu tujuan yakni agar
bisa sampai di Alun-alun Jombang secepatnya.
Jalan
panjang lagi yang harus kami termpuh untuk sampai Kota Kediri melewati arah
Mojokerto, di setia perempatan atau percabangan jalan kami tak lupa untuk
bertanya arah jalan yang benar menuju Jombang. Sebenarnya arah yang kami lewati
sudah benar namun karena dari kejadian yang sudah lewat menjadikan kami
tersesat berulang kali maka kami selalu bertanya setiap ada keraguan dalam
hati. Kami bertanya lanjutkan jalan, bertanya lagi dan lanjutkan jalan begitu
seerusnya setiap kami melewati perembatan yang menjadikan keraguan kami muncul.
Kami
berjalan dengan kecepatan yang lumayan cepat sekitar 70-80 km/jam, karena jalan
yang kami lewati cukup sepi di malam hari, hanya ada mobil-mobil besar yang
lewat. Dengan cepat kami melewati arah Mojokerto hinga Mojoagung. Terasa lama
juga aku merasa berkendara hingga aku memutuskan untuk bertanya kembali pada
orang sekitar, katanya masih ada sekitar 1 jam untuk sampai Mojoagung, huf lama
juga. Perlahan tapi pasti kami enyusri jalan walau sudah malam tapi semangat
kami tidak pernah pupus. Entah dapat darimana energi sekuat itu sementara aku
sendiri tidak pernah melakukan perjalanan keluar kota sama sekali, mungkin ada
paling jauh sampai Tulungagung itupun masih daerah Tulungagung bagian utara.
Aku rasa energy sekuat itu kami dapatkan dari kebulatan tekad dan semangat. Dengan
semangat dan tekad niat yang mantab, segala halangan dan rintangan akan menjadi
tiada berarti, semangat merubah masa depan dan semangat untuk pulang
tentunya.
Jalan
Mojokerto hingga Mojoagung yang panjang terus sampai juga kami kearah Jombang
dan langsung saja aku bertanya kembali arah Alun-alun Jombang, karena kami akan
bertemu di sana dengan Anas dan Anam. Sebenarnya kalaupun kami langsung pulang
kearah Kediri melewati Ngoro-Pare bisa saja langsung mencari arah itu, namun
karena terlanjur janji untuk mencari dan bertemu di Alun-alun Jombang, aku
mencari arah tersebut hingga sampai juga di Alun-alun jombang. Kami
beristirahat sebentar di Alun-alun Jombang untuk sekedar mendinginkan mesin
sepeda motor. Langsung saja aku hubungi Anam atau Anas bahwa kami telah sampai
di Alun-alun Jombang agar mereka segera mencari arah dan bertemu di sana. Dan
ternyata setelah aku menghubungi mereka malah semakin nyasar tak tahu arah
yangmereka lewati, katanya melwati jalur besar yang ada hanya Truk-truk besar
proyek di jalan tersebut, aku sarankan untuk bertanya arah ke Jombang tapi
mereka tidak mau katanya tidak ada orang sama sekali di pinggir jalan semua
sepi hanya truk besar yang sedang berjalan dan tidak mungkin untuk ditanyai.
Aku sempat memaki-maki Anam yang katanya berjanji untuk bertemu di Alun-alun
Jombang namun tidak menapatinya, kesal dan dongkol juga dalam hati setelah
capek-capek mencari arah Alun-alun Jombang namun tidak ada hasil apa-apa.
Kalaupun tadi tidak berjanji bertemu disana aku bisa langsung mencari arah
untuk pulang ke Kediri tanpa harus memutar arah mencari Alun-alun Jombang
segala, namun aku yakin segalanya tidak ada yang sia-sia, akrena telah diatur
oleh Sang Maha Pengatur.
Tiada
hasil nyata yang kami peroleh setelah memutar capek-capek mencari Alun-alun
Jombang, maka kami memutuskan untuk mencari jalan pulang masing-masing dengan
caranya sendiri-sendiri. Segala alat komunikasi kami putuskan untuk tidak dihiraukan,
aku bertekad untuk dapat pulang secepatnya karena badan sangat lelah. Kami
bertanya kembali arah terakhir yakni menuju Ngoro dan Pare kapada seorang penjaga
warung di sekitar Alun-alun Jombang sampai kami menemukan arahnya dan
melanjutkan perjalanan panjang kami lagi untuk pulang. Karena kalau kami sudah
bisa sampai kea rah Ngoro-Pare, kami sudah seikit banyak bisa mencari arah ke Kediri
tanpa bertanya lagi.
Dari
Alun-alun menuju Ngoro cukup jauh sekitar 8 km perjalanan yang harus kami
tempuh. Cukup lama lagi kami harus berkendara di perjalanan tersebut namun
pasti kami bisa melewatinya dan sampai di tujuan terakhir Kota Kediri. Setelah
cukup lama perjalanan kami lewati akhirnya kami membaca di papan arah pinggir
jalan ada tulisan Ngoro, Pare, Kediri. Kami mengikuti jalur yang terteras
disana tanpa berani untuk berinisiatif mengambil jalur alternative, kami hanya
mengambil di jalur utama. Dalam perjalanan yang ada hanya do’a dan konsetrasi
sambil terus membacar tanda-tanda arah yang ada di setiap tepi jalan hingga
sampailah kami di Ngoro dengan selamat. Perjalanan ini belum usai dalam pikiran
kami saat itu, karena masih harus melewati Badar Pare yang penuh dengan
persawahan dan jarang ada perumahan warga. Perasaan tenang sudah mulai ada
dalam hati ini kala sudah ada di wilayah Badas Pare, kerena sebentar lagi sudah
bisa sampai ke Kediri meski harus melewati persawahan lagi.
Perjalanan
berlanjut sampai Badas, disana sempat menghubungi Nur Latifah karena aku punya
pemikiran agar Musa menginap saja dirumahnya Lala, setelah di hubungi dan Lala
oke siap untuk ditempati menginap namun aku sendiri yang yang menggagalkan
rencana tersebut karena rumah Lala termasuk daerah persawahan dan aku sendiri
sudah lupa arah mencari rumahnya, takutnya malah semakin tersesat karena harus
mencari-cari dahulu rumah Lala. Kami memutuskan untuk tidak jadi ke rumah Lala
dan langsung daja menuju arah Kediri melewati bundaran Garuda Pare terus kearah
Simpang Lima Gumul (SLG). Perlahan tapi pasti kami melewati jalan-jalan yang
cukup sepei karena waktu itu sudah masuk jam setengah 11 malam lebih, sebelum
sampai di Simpang Lima Gumul terlebih dahulu kami mengisi BBM di sebuah SPBU
timurnya Simpang Lima Gumul (SLG). Saat mengisi BBM tersebut ada cerita lucu
yakni waktu kami ditanyai oleh seorang petugas SPBU dari mana, aku menjawab
dari Surabaya, terus petugas itu melihat kea rah Musa dan menyapa pelan “Mbak”
sambil melihat betapa terlihat sangat capek Musa saat itu, terang saja batinku
perjalanan dari jam 6 sore baru bisa nyampai lokasi jam 11 malem, 5 jam
perjalanan naik sepeda motor sangat melelahkan.
Perjalananpun
berlanjut dengan santai karena sudah semakin dekat dengan Kota Kediri. Aku
memutuskan melewati jalan arah PG Pesantren Baru yang jalanan cukup sepi
sehingga dapat melewati perjalanan dengan cepat hingga tanpa terasa telah
sampai di PG Pesantren Baru lalu dilanjutkan kea rah Kota Kediri melewati jalan
alternative jurusan Kelurahan Betet. Saat akan melewati jalan tembus arah
Kelurahan Betet itu Musa bertanya apa kita akan melewati “Barongan”, aku jawab
iya karena itu jalan yang paling cepat menuju tujuan akhir, dan dia bilang
katanya takut, aku jawab saja bahwa sudah terlambat untuk takut karena dari
tadi kita melewati jalan-jalan persawahan tanpa takut dan ini tinggal sedikit sudah
aku berani-beranikan diri malah dia takut-takuti. Cukup serem juga sebenarnya,
namun rasa takut itu mungkin sudah aku tutup dengan kepasrahan agar dapat
segera sampai di kost dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Sampai
juga kami di jalan Betet Bawang, jalan yang menjadi tujuan kahir perjalanan
pulang kami. Kami memutuskan untuk mepir dulu di sebuah warung untuk mengisi
perut yang sudah kosong dari terakhir aku makan di Krian Sidoarjo. Warung yang
kami singahi adalah milik orang tua dari murid TPA kami yang sudah cukup kenal
denganku, aku memesan makan Nasi Pecel dengan Teh Hangat, sedangkan Musa
memilih Nasi Goreng dengan Air Mineral saja. Kami makan dengan lahapnya karena
terlalu lapar perut kami. Sambil makan sambil mengobrol kesana kemari tentang
perjalanan yang kami lewati tadi mulai dari berangkat ke Surabaya hingga sampai
perjalanan pulang ke Kediri lagi yang malam itu baru bisa sampai setelah 5 jam
perjalanan. Kami mengobrol santai hingga teringat Anas dan aku langsung
menghubunginya, aku telfon sudah sampai mana, dia menjawab bahwa posisinya
masih di jalan menuju Kota Kediri, kami tertawa sendiri yang sudah sampai dari
tadi dan sudah habis makan satu piring, eh lupa Musa makan nasi gorengnya tidak
habis baru habis setengah karena memang porsinya lumayan banyak, maka aku
berkata gampang nanti biar aku habiskan atau siapa nanti yang datang belakangan
Anam atau Anas untuk menghabiskan nasi gorengnya.
Sekitar
setengah jam kami menunggu Anas dan Anam di warung tersebut, cukup lama juga
kami ngobrol dan menunggu setelah kami beri tahu lokasi warung dimana kami
makan. Mereka ternyata langsung di Masjid meletakkan tas dan barang bawaannya
terlebih dahulu, lalu baru menuju warung yang kami tunjukkan lokasinya. Jam
setengah 12 malam Anam dan Anas baru sampai di warung dan langsung memesan
makan, sedangkan nasi gorengnya Musa adalah Anas yang siap untuk menghabiskan,
di mix dengan pesanan nasi gorengnya sendiri. Kami ngobrol-ngonrol lagi
sambil makan bercerita tentang keruwetan perjalanan pulang kami tadi,
masing-masing mempunyai cerita yang unik sendiri-sendiri.
Kami
memutuskan pulang dari warung tepat jam 12 malam dan langsung menuju Mushola.
Maslah berikutnya yang ada adalah dimana Musa akan menginap untuk malam itu,
pilihan di pondok tidak mungkin sudah terlalu malam, di kost teman juga sudah
tidur, dan hanya ada 2 pilihan yakni di Mushola kost ku atau di Masjid tempat
Anam menginap. Ankhirnya pilihan yang paling menungkinkan yakni di Mushola kost
ku, karena Musa juga sudah kenal dengan yang dekat Mushola. Kami langsung
menata untuk tidur dengan keadaan terpaksa Musa aku suruh tidur di Mushola
bagian tempat jama’ah putri Cuma aku sediakan Bantal karena dicarikan selimut
dia menolaknya. Waktu sudah jam 12 lebih dan Musa langsung tidur sedangkan aku
memilih tidur di teras sambil jaga-jaga ditemani nonton film di laptop baru
bisa tidur jam 1 malam.
Pagi
jam 4 subuh, yang bangun paling awal dan segera Adzan Subuh, siap-siap jama’ah
dan membangunkan teman-teman yang lain, sedangkan Musa sudah siap-siap untuk pulang
menunggu barengan Anas mau ke Terminal sebelum naik Bus menuju Bojonegoro. Semalem
kami memang sudah sepakat untuk yang mengantar Musa ke terminal adalah Anas
karena sekalian pulang ke Nganjuk. Jam setengah 5 tepat saat aku berjama’ah
Shalat Subuh, Musa berangkat dengan Anas ke terminal untuk naik Bus menuju Bojonegoro.
Usai shalat subuh Musa sudah tak ada di Mushola dan aku sendiri pengennya tidur
lagi tapi sangat sulit rasanya untuk tidur, entah kenapa dan apa sebabnya
sampai pagi dan siang aku tidak bisa tidur. Sekitar jam 10 pagi baru sms ku
kepada Anam dibalas, katanya dia baru bangun tidur setelah Shalat Subuh tidur
lagi, sedangkan aku cerita kalau aku tidak bisa tidur padahal aku tidur hanya
dari jam 1 malam sampai jam 4 pagi. Aku baru bisa benar-benar tidur sekitar jam
setengah 12 samapi jam 12 siang waktu ada Adzan Dzuhur berkumandang, memang
sangat nyaman tidur ketika waktu shalat. Teakhir aku ingat sebelum tidur adalah
ketika ada yang Adzan Dhuhur di Mushola sekitar setengah jam baru aku terbangun
dan jama’ah belum dimulai, maka aku bisa masih mendapat bagian untuk berjama’ah
Shalat Dhuhur. Hingga sore hari kau hanya di kamar dan melihat film di laptop
sampai sekitar jam 3 sore dan memulai kegiatan seperti biasa yakni mengajar di
TPQ.
Semua
cerita seharian ketika berangkan ke Surabaya hingga kembali ke Kediri menjadi
cerita yang sangat berkesan bagi kami berempat. Terlepas dari pengalaman
masing-masing dalam memaknai perjalanan yang kami tempuh, namun hal itu yang
terpenting bagi kami adalah telah mendapat pelajaran berharga dan tak akan
pernah terlupakan dalam setiap kisah hidup kami selamanya, bisa dijadikan
cerita kepad anak cucu nantinya tentang pengalaman tersebut. Saatnya
mempersiapkan untuk perjalanan menaklukan Kota Surabaya berikutnya agar jangan
sampai persiapan yang ada menjadi perjalan yang tak akan terlupakan lagi.







0 komentar:
Post a Comment