Malam ini, eh udah masuk dini hari.
Kog gak ada rasa ngantuk sama sekali. Entah karena sebab apa dan bagaimana rasa
kantuk itu sirna begitu saja. Mungkin karena banyak pikiran atau karena
terlanjur kemaleman tidurnya.
Rencana hidup apalagi sebenarnya yang
ada dalam pikiran ini aku sendiri tak pernah tahu dan seolah tak mau tahu.
Semua berjalan begitu saja mengalir apa adanya. Apakah rencan itu masih ada
bagi makhluk? Bukankah rencanya hanya milik-Nya yang maha Berencana dan
Berkehendak. Apapun rencana kita semuanya kebali pada keputusannya Yang Maha
Kuasa. Namun sebagai manusia yang dikarunia akal dan perasaan tidak salah
sebenarnya bila menyusun sebuah rencana, namun harus pula disertai dengan sikap
lapang hati dan siap jika rencana itu gagal atau berhasil, mungkin lebih
tepatnya tertunda untuk berhasil agar kata gagal lebih halus ketika dimaknai
dengan keberhasilan yang tertunda.
Dalam sebuah do’a ada nilai harapan
dan kepasrahan akan kuasa Tuhan yang Maha Mengusai segala alam Raya ini. Tiada
sekecil apapun yang tersimpan atau tampak di muka bumi dan di dalamnya tanpa
sepengetahuan Dia Yang Maha Kuasa. Berdo’alah karena dalam do’a ada nilai yang
mencerminkan sikap kita sebagai Makhluk yang bersimpuh dihadapan Sang Khaliq.
Karena do’a adalah bagian dari kunci-kunci keberhasilan.
Sebenarnya berhasil atau tidak
tinggal kita yang menjalani sebagai pelaksana dalam memaknai keberhasilan
tersebut, karena Tuhan sendiri tidak pernah menuntut manusia untuk berhasil,
yang diwajibkan hanyalah berusaha atau berproses. Bila semua usaha dan proses
telah dilaksanakan dengan sempurna itulah yang disebut berhasil. Dan hasil
apapun yang ada itu adalah bagian dari usaha yang kita lakukan.
Adapun nilai lain dalam sebuah do’a
adalah unsur ikhlas. Lantas apa yang disebut dengan ikhlas kadang kita sendiri
sering salah memaknai kata ikhlas, ada yang berkata ikhlas adalah pemberian
yang tanpa mengharap adanya balasan, namun apakah mungkin sebagai makhluk yang
mempunyai nafsu dan angan-angan kita tidak berharap balasan. Disinilah kita
harus benar-benar memahami atau setidaknya mau berusaha untuk memahamkan diri
dengan kata ikhlas. Secara pemikiran yang aku peroleh sendiri sebuah amal itu
terbagi menjadi tiga tingkatan, pertama beramal dan mengharap kembalinya amal
tersebut langsung pada pihak yang kita beramal, kedua beramal dengan kita
berharap balasan dari Tuhan baik berupa benda atau kebaikan apapun namun bukan
pada yang kita beramal. Ketiga adalah kita beramal ya hanya untuk beramal tidak
memperdulikan balasan dari siapapun dan
hanya berharap keridhoan dari Tuhan. Dari ketiga amal tersebut yang pertama
tentu bukanlah Ikhlas disana, sedangkan kedua bisa disebut ikhlas namun masih
tingkatan yang biasa, yang terakhir itulah sebanarnya makna Ikhlas. Sebagai
manusia biasa tentunya sangat sulit untuk mencapai golongan ketiga, paling
tidak kita dapat beramal pada tingkatan Ikhlas yang kedua diatas.
Ikhlas juga tidak serta merta muncul
begitu saja, semua perlu proses dan pembiasaan. Ada yang mengatakan amal itu
perlu dipaksa, semakin lama dipaksa maka akan menjadi terpaksa, setelah terpaksa
akan terbiasa dan setelah terbiasa itulah akan muncul yang dinamakan Ikhlas.
Begitu panjang proses untuk mencapai makna ikhlas, maka wajar jika sangat sulit
kita bila mengejar sebuah keihklasan tanpa usaha yang berat dan terus menerus.
Dan lagi ikhlas itu bukan di mulut tapi di hati, ada yang berkata “Aku ikhlas
kog!”, manun sebenarnya dia belum ikhlas. Karena ikhlas itu Cuma urusan kita
dengan Tuhan saja tanpa ada campur tangan pihak manapun.
Sebuah makna ikhlas yang begitu
panjang agar kita dapan mencapainya tentu dengan usaha yang terus menerus.
Memang sulit, namun hal yang sulit bukan berarti tidak mungkin. Selama ada
kesungguhan maka harapan itu tidak akan pernah hilang, walau seberapa besar dan
berapun rintangan akan tiada artinya dengan adanya kesungguhan dan harapan.







0 komentar:
Post a Comment