Search

RSS

Nilai Sebuah Keikhlasan

Malam ini, eh udah masuk dini hari. Kog gak ada rasa ngantuk sama sekali. Entah karena sebab apa dan bagaimana rasa kantuk itu sirna begitu saja. Mungkin karena banyak pikiran atau karena terlanjur kemaleman tidurnya.
Rencana hidup apalagi sebenarnya yang ada dalam pikiran ini aku sendiri tak pernah tahu dan seolah tak mau tahu. Semua berjalan begitu saja mengalir apa adanya. Apakah rencan itu masih ada bagi makhluk? Bukankah rencanya hanya milik-Nya yang maha Berencana dan Berkehendak. Apapun rencana kita semuanya kebali pada keputusannya Yang Maha Kuasa. Namun sebagai manusia yang dikarunia akal dan perasaan tidak salah sebenarnya bila menyusun sebuah rencana, namun harus pula disertai dengan sikap lapang hati dan siap jika rencana itu gagal atau berhasil, mungkin lebih tepatnya tertunda untuk berhasil agar kata gagal lebih halus ketika dimaknai dengan keberhasilan yang tertunda.
Dalam sebuah do’a ada nilai harapan dan kepasrahan akan kuasa Tuhan yang Maha Mengusai segala alam Raya ini. Tiada sekecil apapun yang tersimpan atau tampak di muka bumi dan di dalamnya tanpa sepengetahuan Dia Yang Maha Kuasa. Berdo’alah karena dalam do’a ada nilai yang mencerminkan sikap kita sebagai Makhluk yang bersimpuh dihadapan Sang Khaliq. Karena do’a adalah bagian dari kunci-kunci keberhasilan.
Sebenarnya berhasil atau tidak tinggal kita yang menjalani sebagai pelaksana dalam memaknai keberhasilan tersebut, karena Tuhan sendiri tidak pernah menuntut manusia untuk berhasil, yang diwajibkan hanyalah berusaha atau berproses. Bila semua usaha dan proses telah dilaksanakan dengan sempurna itulah yang disebut berhasil. Dan hasil apapun yang ada itu adalah bagian dari usaha yang kita lakukan.
Adapun nilai lain dalam sebuah do’a adalah unsur ikhlas. Lantas apa yang disebut dengan ikhlas kadang kita sendiri sering salah memaknai kata ikhlas, ada yang berkata ikhlas adalah pemberian yang tanpa mengharap adanya balasan, namun apakah mungkin sebagai makhluk yang mempunyai nafsu dan angan-angan kita tidak berharap balasan. Disinilah kita harus benar-benar memahami atau setidaknya mau berusaha untuk memahamkan diri dengan kata ikhlas. Secara pemikiran yang aku peroleh sendiri sebuah amal itu terbagi menjadi tiga tingkatan, pertama beramal dan mengharap kembalinya amal tersebut langsung pada pihak yang kita beramal, kedua beramal dengan kita berharap balasan dari Tuhan baik berupa benda atau kebaikan apapun namun bukan pada yang kita beramal. Ketiga adalah kita beramal ya hanya untuk beramal tidak memperdulikan balasan dari siapapun  dan hanya berharap keridhoan dari Tuhan. Dari ketiga amal tersebut yang pertama tentu bukanlah Ikhlas disana, sedangkan kedua bisa disebut ikhlas namun masih tingkatan yang biasa, yang terakhir itulah sebanarnya makna Ikhlas. Sebagai manusia biasa tentunya sangat sulit untuk mencapai golongan ketiga, paling tidak kita dapat beramal pada tingkatan Ikhlas yang kedua diatas.
Ikhlas juga tidak serta merta muncul begitu saja, semua perlu proses dan pembiasaan. Ada yang mengatakan amal itu perlu dipaksa, semakin lama dipaksa maka akan menjadi terpaksa, setelah terpaksa akan terbiasa dan setelah terbiasa itulah akan muncul yang dinamakan Ikhlas. Begitu panjang proses untuk mencapai makna ikhlas, maka wajar jika sangat sulit kita bila mengejar sebuah keihklasan tanpa usaha yang berat dan terus menerus. Dan lagi ikhlas itu bukan di mulut tapi di hati, ada yang berkata “Aku ikhlas kog!”, manun sebenarnya dia belum ikhlas. Karena ikhlas itu Cuma urusan kita dengan Tuhan saja tanpa ada campur tangan pihak manapun.

Sebuah makna ikhlas yang begitu panjang agar kita dapan mencapainya tentu dengan usaha yang terus menerus. Memang sulit, namun hal yang sulit bukan berarti tidak mungkin. Selama ada kesungguhan maka harapan itu tidak akan pernah hilang, walau seberapa besar dan berapun rintangan akan tiada artinya dengan adanya kesungguhan dan harapan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment